Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah kebudayaannya terus berlaku hingga sekarang. Karena memang itulah hakekat sebuah kebudayaan yang selalu diinterpretasi ulang oleh generasi selanjutnya. Begitu juga dalam dunia pop. Interpretasi ini juga terjadi, bukan hanya mengacu kepada kepentingan industri ataupun komersial, namun daya interpretasi sejarah kebudayaan inilah sehingga sebuah budaya pop bisa dilihat strategisnya.
Begitulah yang saya temukan pada video musik grup band asal Prancis, Hold Your Horses. Pada akhir Januari 2010, band indie ini merilis sebuah video yang banyak dibicarakan dalam situs-situs musik video dan seni rupa. Kenapa? Karena video ini menghadirkan 30 karya maestro seni rupa Barat yang diperankan oleh para personilnya.



Video musik 70 Million menjadi menarik karena tidak pernah terbayangkan adegan-adegan "klasik" yang tergambar pada karya agung itu dihadirkan lagi dalam interpretasi budaya pop. Video musik ini membawa penonton pada penjelajahan visual tentang sejarah seni rupa dunia. Walaupun pada tiap adegan video yang produksi L’Ogre Productions ini tidak menjelaskan karya-karya siapa saja yang dirangkum dalam video 70 Million. Inilah tantangannya.

Saya mencoba membongkar karya-karya maestro siapa saja yang diambil sebagai "permainan" dalam video ini. Video dibuka dengan karya agung The Last Supper, Leonardo Da Vinci (1495–1498); kemudian The Birth of Venus (1485-1487), Sandro Botticelli; dua karya penting periode Renaissance. Gambar selanjutnya adalah adegan dari lukisan klasik Rembrandt, The Anatomy Lesson of Dr. Nicolaes Tulp (1632). Lalu hadir secara bersamaan lukisan Hans Holbe Hans Holbein der Jüngere, Porträt des Heinrich VIII (1534-1536) dan Johannes Vermeer, Girl with A Pearl Earring (1665) yang menjadi tonggak bagaimana interior dan potret sebagai gambaran realitas masyarakat Eropa.
Video tersebut kemudian menghadirkan lukisan Théodore Géricault, The Raft of the Medusa (1818-1819) yang merupakan salah satu koleksi utama museum Louvre, Paris dari periode Romantik Eropa. Kemudian lukisan Jacques-Louis David, Death of Marat (1793) dari periode yang sama. The Creation of Adam (1511), Michelangelo; sebuah fresco klasik yang masih dapat dijumpai di Kapel Sistine, Italia.



Setelah itu, karya penting periode surealisme, The Son of Man (1964), René Magritte dan karya klasik lukisan abstrak konstruktivisme Piet Mondrian, Compotition-pun dihadirkan. Lukisan ekspresif Frida Kahlo, Autoretrato dan Pablo Picasso, Retrato de Dora Maar Sentada (1937). Lalu hadir karya Edvard Munch, Scream (1893) yang merupakan lukisan yang paling banyak diingat imajinya dalam sejarah seni rupa dunia—Munch mengatakan lukisan ini adalah studi tentang jiwa-jiwa dan merupakan studi tentang dirinya sendiri.





Video 70 Million kemudian menghadirkan Self Portrait with Bandaged Ear, Van Gogh (1889) dan Marilyn karya Andy Warhol (1962)—yang menjadi salah satu tonggak gerakan Pop Art di Amerika. Kemudian hadir lukisan kontroversial yang dibuat oleh pelukis yang tidak diketahui identitasnya pada periode Renaissance tentang Gabrielle d'Estrées (1594) yang merupakan istri raja Henry IV dari Prancis. Juga hadir lukisan periode Bizantium, Giovanni Cimabue, Maestà di Santa Trinitá (1285-1286) yang sering disebut sebagai periode kegelapan Eropa dan lukisan Caravaggio, The Beheading of Saint John the Baptist (1608) dari periode Renaissance.






Tidak ketinggalan lukisan terkenal Edouard Manet, Olympia (1830); Eugène Delacroix, Liberty Leading the People (1830); Otto Dix, Potrait of the Journalist Sylvia von Harden (1926); dan Gustav Klimt, The Kiss (1907-1908). Lalu hadir Marc Chagall, La Mariée (1950) dan salah satu karya yang paling mengundang misteri tentang sejarah Spanyol, La Meninas/ The Maids of Honour (1656) karya Diego Velázquez. Lukisan ini dibuat oleh Velázquez empat tahun sebelum dia meninggal yang menggambarkan ambiguitas subyek. Tidak pernah jelas siapa yang dilukis Velázquez pada lukisan ini. Dari karya ini, timbul teori tentang kaidah lukisan dan konsep pencitraan, lapisan, subyek dan obyek atau membongkar kaidah “melukis” yang sering disebut seniman zaman sekarang Theology of Painting.





Karena memang video ini ingin menghadirkan imaji-imaji dalam sejarah seni rupa Barat, tentu tidak lengkap tanpa Sunflower (1880) dari Vincent Van Gogh sebagai penutup.
Dari lukisan-lukisan yang diadegankan dalam video 70 Million, dapat dibaca bagaimana budaya pop menjadikan kanon-kanon sejarah seni rupa sebagai kritik generasi baru kepada sejarah kebudayaannya. Deglorifikasi yang dilakukan generasi baru ini adalah potret dunia kontemporer. Sejarah kebudayaan adalah masa lalu yang dapat diabaikan, tentu dengan daya kritis seperti yang dilakukan oleh Hold Your Horses dengan video 70 Million.
































Twitter
Digg
Del.icio.us
Reddit
StumbleUpon
Slashdot
Yahoo
Blogmarks
Technorati
Googlize this
Facebook




































"jadi Zizek memang enak. Bisa ngomong "seenak"-nya, bis...
Setelah beberapa lama, ada kendala teknis pada fasilitas komentar d...
tes
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisa...
tapi tonton dulu, soalnya suka ada PROMOTION ONLY yang muncul tiap ...
mmmm...von trier telah lama mati...bagi saya film ini tetap bermutu...
akhirnya yakin juga bahwa film keren ini ada maksudnya (lho!!) haha...
Boleh deh argumentasinya, tapi saya tetap bersepakat dengan para kr...
la'u cari aja di ambassador ato di lapak bajakan. banyak yg jual . . .
lom nonton filmnya juga,ada di jual ga yak???