Al-Kautsar, Gadis Marathon, Titian Serambut dibelah Tujuh, Hati yang Perawan, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Bintang Kejora, Keluarga Markum, Joe Turun ke Desa, Boss Carmad, Oom Pasikom (Parodi Ibukota), Nada dan Dakwah, Ramadhan dan Ramona, Fatahillah, dan baru-baru ini filem Ketika Cinta Bertasbih adalah filem-filem yang pernah disutradarai oleh Chaerul Umam. Namanya yang tak asing lagi dalam jagat perfileman nasional. Dalam sebuah kesempatan, saya berbincang-bincang dengannya dan ia mengutarakan komentarnya mengenai kompleksitas dunia perfileman nasional mulai dari pandangannya terhadap perjalanan filem Indonesia, industri filem, tema-tema filem yang ia pilih, lembaga sensor, hingga perkembangan mutakhir dunia perfileman nasional yang mencakup kedudukan komunitas dan perkembangan teknologi filem dewasa ini. Dari komentar-komentarnyalah saya temukan cara pandang dia dalam melihat konstelasi perfileman nasional yang sama-sama tak kalah rumitnya dengan persoalan mendasar bangsa ini. Terlebih lima bulan yang lalu, DPR mensahkan RUU Perfilman menjadi UU. Namun, pandangan yang ia kemukakan tidaklah sesuai dengan ideologi filem-filem yang ia buat terdahulu. Kenapa tidak, Chaerul Umam tetap memelihara status quo dalam mencermati perkembangan mutakhir filem Indonesia. Di satu sisi ia sangat prihatin dengan kondisi perfileman nasional yang tetap saja berselera rendah dan di sisi lain ia rupanya sudah sangat tertinggal dengan dinamika basis infrastruktur dan suprastruktur perfileman nasional khususnya jerih payah komunitas filem dalam membangun pondasi tatanan perfileman nasional. Dan lebih parah lagi, filem-filem yang ia sutradarai paska reformasi ini mengalami kemunduran total.

Chaerul Umam tumbuh dan dibesarkan dalam industri filem tak terlepas dari pengaruh Asrul Sani. Asrul Sani telah berhasil mengkadernya menjadi seorang sutradara yang patut diperhitungkan, terbukti debut perdana Chaerul Umam sebagai sutradara dalam Al-Kautsar telah berhasil mengantarkan filem ini masuk nominasi pada Festival Film Asia XXIII di Bangkok, Thailand 1977. Hampir semua filem yang ditulis oleh Asrul Sani, nama Chaerul Umam selalu dipercaya sebagai sutradara. Otoritas itu secara legitimate disandang Chaerul Umam dalam menerjemahkan gagasan Asrul Sani yang dituangkan dalam skenario, dan dibuat melalui gaya penyutradaraan Chaerul Umam. Pada tahun 1982, Chaerul Umam kembali menyutradarai filem-filem yang ber-genre religi dan tak tanggung-tanggung, filem yang ia sutradarai adalah sebuah filem Islam pertama di negeri ini, Titian Serambut Di Belah Tujuh yang dibuat tahun 1959 oleh Asrul Sani. Dalam filem ini, Chaerul Umam mampu memberikan sentuhan signifikan dan banyak pengamat yang memuji kualitas filem itu. Dan tentunya pujian juga datang dari sang empu, Asrul Sani. Titian Serambut Dibelah Tujuh tampil sebagai filem religi yang memukau, Chaerul Umam mampu memberikan kekuatan watak pada tiap karakter tokohnya untuk dapat mengartikulasikan persoalan-persoalan yang menimpa masing-masing pemainnya. Di samping itu, filem ini mempunyai kekuatan pada unsur-unsur stilistiknya dan nama Chaerul Umam pun serta merta terangkat karena berhasil memadukan semua elemen-elemen konstruksi filem. Hal yang sama juga berlaku pada filem Kejarlah Daku Kau Kutangkap yang meraih box office dengan capaian 166.734 penonton, sebuah angka yang fantastis ketika itu. Filem ini dengan mantap berhasil memenuhi harapan penonton sebagai bentuk filem komedi cerdas dengan menceritakan sebuah permasalahan suami-istri di sebuah rumah tangga. Berbagai Piala Citra, Piala Antemas dan filem terlaris di Jakarta sepanjang medio 1986 telah diraih filem besutan Chaerul Umam ini. Prestasi ini tak cukup berhenti disini saja dan terus berlanjut ke filem-filem berikutnya yang ia sutradarai. Filem-filem yang ia sutradarai berhasil menyedot perhatian penonton, lantaran filem-filem tersebut mempunyai basis persoalan yang riil dan dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat. Terlebih filem itu dikemas secara komedi dan karikatural seperti dalam Oom Pasikom, sebuah filem komedi adopsi dari tokoh kartun Oom Pasikom yang dimuat di harian Kompas. Filem yang menceritakan fragmen-fragmen masyarakat ini, mampu mengartikulasikan kisah-kisah orang pinggiran akibat kebijakan pembangunan pemerintah orde baru yang salah sasaran dan berdampak terhadap tindakan sosial masyarakatnya.
Ketika Cinta Bertasbih (trailer)
Melihat Chaerul Umam Kini
Pergantian rezim pada medio 1998, rupanya juga berdampak pada diri Chaerul Umam. Setelah menyutradarai Fatahillah di tahun 1997, karirnya sebagai sutradara filem untuk sementara vakum. Ia justru lebih memilih dan asyik menjadi seorang sutradara sinetron. Mungkin pilihannya tersebut berdasar pada kelesuan dan mati surinya industri filem nasional dan adagium yang menyatakan hijrahnya orang-orang filem ke industri televisi rupanya berlaku juga bagi Chaerul Umam. Sinetron Bengkel Bang Jun, garapan pertamanya dalam menyutradarai sinetron. Dalam satu dekade paska reformasi ini, ia lebih banyak menyutradarai berbagai sinetron religi yang sedang marak ketika itu. Sebut saja Maha Kasih, Jalan Takwa, dsb. Baru di tahun 2008, Chaerul Umam untuk pertama kalinya kembali menyutradarai filem. Ketika Cinta Bertasbih adalah filem arahannya dari adaptasi novel Habiburrahman el-Shirazy dengan judul yang sama. Filem ini pada dasarnya mengikuti pola dan resep yang sama dari filem sebelumnya, Ayat-ayat Cinta. Kebetulan novel tersebut best seller di pasaran, dan filem ini pun meraup sukses komersial yang luar biasa. Melihat begitu besarnya potensi pasar, Chaerul Umam pun tak ketinggalan untuk sesegera mengangkat novel tersebut ke layar lebar. Hasilnya bisa ditebak, raihan penonton dalam filem ini pun cukup signifikan meskipun belum mampu menyaingi Ayat-ayat Cinta yang fenomenal. Dan layaknya seperti sinetron, filem ini pun bersambung pada Ketika Cinta Bertasbih II. Filem yang bertabur bintang dan kaya nuansa serba gemerlap ini, terasa kontraproduktif dengan tokoh Azzam, seorang mahasiswa Universitas Al-Azhar yang berjuang menyelesaikan kuliahnya. Filem ini terjebak pada arketipal opera sabun dan sama sekali tidak memberikan fatsun politis—kalau mau dikatakan seperti itu, dan ini berbeda dengan filem-filem yang ia buat di medio 1970-1980an yang mampu menangkap realitas sosial—persoalannya lain dulu, lain sekarang. Memang, boleh dikatakan seperti itu, namun kita harus menengok kembali bahwa filem-filem religi secara naratif dan stilistik perlu dikaji ulang. Bukannya jauh-jauh Gus Dur telah memperingatkan, bahwa filem-filem Islam seyogyanya melepaskan diri dari keseragaman bentuk—dalam hal formalitas agama. Menurutnya, baik segi sinematik dan non-sinematik perlu ada keragaman wajah dan kebebasan bentuk, seperti yang ia tulis dalam esainya pada 28 tahun silam dengan judul Film Dakwah; Diperlukan Keragaman Wajah dan Kebebasan Bentuk. Dewasa ini, kenyataan berkata lain, filem-filem bertema religi tak mampu sebagai agen transformasi sosial seperti yang tersari dengan apik dalam filem-filem yang disutradarai Chaerul Umam; Al-Kautsar dan Titian Serambut Di Belah Tujuh. Secara parsial, Islam digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan yang bersifat domestik.
Dan kita pun segera mengetahui posisi Chaerul Umam kini yang tak lebih dari ‘kenaifannya’ ikut serta memproduksi budaya kitsch, demi memenuhi ambisi produser untuk mencapai akumulasi keuntungan yang berlipat. Posisi Chaerul Umam ini, secara eksplisit menegaskan bahwa kedepannya orang yang membuat filem harus mendatangkan income, begitulah jawabnya tatkala saya menanyakan perihal dalam satu dekade geliat perfileman nasional. Celakanya lagi, sangat disayangkan bahwa kenaifan Chaerul Umam jatuh pada pemahaman sektarian dengan mencederai karirnya sebagai sutradara. Ia mengatakan bahwa dalam filem religi yang ia buat pemainnya harus Islam, adegan-adegan tetap dalam koridor syariat agama, begitupun dalam komposisi sinematiknya, jika ia berjilbab maka tak perlu dilepas jilbabnya. Jelas sekali, Chaerul Umam jatuh pada sikap mental yang mereduksi agama pada taraf tertentu yang amat sempit. Sikap yang ia ambil, secara sinematik juga mematikan ruang kreatifitas dan bersifat close reading—begitulah saya menyebutnya di mana pembacaan bahasa sinema menjadi tertutup.
Ketika Cinta Bertasbih 2 (trailer)


Tak cukup disitu saja, perubahan karakter Chaerul Umam semakin menempatkan dirinya pada posisi status quo, pandangannya tentang sensor, berkembangnya komunitas-komunitas filem, industri filem, teknologi dan tema-tema filem ia tanggapi dengan dingin. Mengenai sensor, ia memandang masih sangat diperlukan dengan pertimbangan masyarakat kita belum siap jika sistem sensor dihapus. Baginya, sensor di sini bukan secara kelembagaan yang salah, melainkan orangnya. Ia menambahkan lembaga sensor kedepannya harus lebih diperkuat lagi sistemnya, karena produk audio visual yang tak terbendung lagi di masyarakat seperti DVD, dan sebagainya. Tawaran mengenai lembaga klasifikasi filem sebagai pengganti lembaga sensor menurutnya sebagai bentuk demokrasi yang kebablasan, yang hanya diperjuangkan segelintir orang saja.
Pandangannya tentang sensor terlalu parsial. Sensor dilihat sebagai perkara moral, dan tak ubahnya kebijakan pemerintah kolonial tentang masyarakat jajahannya yang dianggap masih terbelakang dan perlu dididik secara moral. Pengandaian itu berlaku pada pandangan Chaerul Umam tentang sensor, ketidaksiapan masyarakat adalah alasan kuat mengapa sensor masih diperlukan. Masyarakat kita berada dalam demokrasi yang semu. Segala regulasi mengenai moral tertuang sangat jelas, baik dalam peraturan perundang-undangan, Perda-perda, dsb. Lagi-lagi praktik hipokrisi menjangkiti elemen negara di berbagai sektor, termasuk perfileman. Jika dulu, sensor berhubungan mengenai ketertiban dan keamanan dari tindakan subversif, kini sensor berada pada kuasi moral yang tidak boleh berseberangan dengan kriteria moral pemerintah dan kehendak umum (mainstream). Di sinilah letaknya sensor tak mampu mengatasi begitu saja persoalan, berbanding terbalik dengan tema-tema perfileman nasional saat ini di mana horor + komedi + seks bertaburan dibuat. Lalu di manakah lembaga sensor berfungsi dengan baik, tatkala filem-filem seronok pun lolos sensor. Bukankah ini sama saja dengan menjilat ludahnya sendiri—saya kira Chaerul Umam terjebak dalam pusaran aparatus moral yang merasa mempunyai otoritas dalam mengawal moral masyarakat. Ironis sekali sikap Chaerul Umam yang dulu dikenal sebagai sutradara yang melahirkan filem-filem berkelas—mampu menggambarkan persoalan yang ada di masyarakat dengan sangat apik dan genial.

Apakah Islam dapat dijadikan pembenaran? Bagi Chaerul Umam, tentu iya. Pandangannya tentang Islam dipilih sebagai tema yang ia sukai ternyata menyisakan satu masalah tersendiri. Pertama, ia bisa dikatakan mengkhianati Asrul Sani. Kenapa? Berkat tangan dingin Asrul Sani-lah Chaerul Umam mendapat tempat terhormat di ranah perfileman nasional. Tak perlu diragukan lagi, pandangan Asrul Sani sangat mempengaruhi jagat kebudayaan Indonesia di mana ia mengumandangkan semangat humanisme universal yang mensyaratkan universalitas manusia dalam mengekspresikan diri. Asrul Sani jelas pendiriannya, ia sangat menentang sekali status quo yang merugikan Islam. Gaung ini tentu tertinggal dalam jejak-jejak yang ditinggalkan Asrul Sani dalam teks-teksnya dan orang-orang yang ia ’didik’ termasuk Chaerul Umam. Kedua, dengan sendirinya Islam dijadikan satu-satunya pembenaran dan ini jelas menaruh agama pada ke-eksklusifan-nya. Islam disandingkan pada konteks oposisi biner yang melihat persoalan pada tingkat hitam-putih, baik-buruk, muslim-non muslim, kaya-miskin, dsb. Ketiga, Chaerul Umam gagal menerjemahkan visi Islam sebagai agama yang pro terhadap proses transformasi sosial, seperti apa yang dilakukan oleh Saiful Bahri, tokoh utama filem Al-Kautsar, Pak Guru Ibrahim dengan daya istiqomah-nya mampu merubah apa itu Islam secara lebih esensial ketimbang Ketika Cinta Bertasbih—menaruh Islam dalam konteks formalitas agama. Di sinilah saya meyakini tema Islam yang digadang-gadangkan oleh Chaerul Umam gagal untuk menjadikan Islam sebagai agen liberasi dan transformasi sosial. Keempat, Chaerul Umam mengalami inkonsistensi dalam menerjemahkan nilai-nilai keislaman pada filemnya—dimana dalam Al-Kautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nada dan Dakwah serta Fatahillah—Islam adalah sumber inspirasi bagi penggerak zaman dan bertindak sebagai moral force umat. Dalam Ketika Cinta Bertasbih, hal ini kurang terasa dan lebih menonjolkan Islam pada sektor privat dan pembakuan agama. Dan kelima, dalam statement-nya, Chaerul Umam benar-benar menjadikan Islam sangat kaku dan formalistik ditambah agama yang sangat eksklusif. Islam disini dipahami sebagai agama yang sangat sempit, anti dialog, tertutup, dan jumud (ortodoks). Chaerul Umam menempatkan Islam sebagai agama yang sektarian, termasuk implementasi bahasa sinematiknya di mana ada sebuah adegan-adegan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islami diharamkan untuk bersentuhan. Dan ia menyebutkan pula bagaimanapun seorang wanita muslimah harus memakai jilbab, karena itu ketentuan syariat termasuk pembingkaian gambar ketika di kamar—tetap wanita tersebut tidak boleh melepas jilbabnya. Dan saya melihat ini sebuah hal yang konyol dalam terminologi pengadeganan. Sejatinya, mana ada orang yang hendak tidur di kamarnya terbungkus jilbab. Lantas, apakah hal tersebut dapat dibenarkan dalam logika visual? Di sinilah kepiawaian sutradara diuji. Hal yang sama juga berlaku di Iran, sebuah negara Islam yang melarang adanya adegan non muhrim bersentuhan dan adegan-adegan yang memperlihatkan aurat. Namun, sutradara-sutradara besar Iran seperti Abbas Kiarostami, Samira Makhmalbaf secara genial dan inovatif mampu menciptakan bahasa filem yang sesuai dengan syariat—kalau mau dikatakan seperti itu atau konvensi masyarakat Iran pada umumnya, namun tidak terjebak pada formalisme agama yang sempit, sehingga wajarnya saja filem-filem Iran menjadi langganan pada festival-festival filem internasional bergengsi.
Bintang Kejora

Di sela-sela percakapan saya dengan Chaerul Umam, dengan entengnya ia mengatakan bahwa ia pernah membuat filem-filem jahiliyah—begitulah terminologi Chaerul Umam untuk membedakan dengan filem-filem bertema religi yang ia buat. Meskipun ia berkelakar, namun tak sepatutnya ia mengucapkan terma filem jahiliyah—lagi-lagi Chaerul Umam dengan mudahnya melakukan pengkategorisasian, melihat serba hitam-putih, padahal dari yang saya kaji, filem-filem yang ia sutradarai adalah filem-filem yang bernas dan mempunyai visi yang jelas. Filem-filem yang ia buat tak pernah satu pun nirapresiasi, terbukti beragam penghargaan diterimanya dan ini sebuah prestasi yang luar biasa. Di sinilah kita dapat melihat ambivalensi Chaerul Umam yang menurut hemat saya, ia sendiri telah mencederai gagasan luhur Asrul Sani, bahwa filem dapat menjawab problematika umat dengan mengedepankan Islam sebagai agama rahmatan lil’ alamin. Bukan sebuah agama yang dijadikan pelarian, bukan pula membawa agama pada ranah komodifikasi demi eskalasi modal. Bukankah ia mengatakan dengan lugas kepada saya, bahwa filem bukan hanya sekedar barang dagangan yang menghamba pada keuntungan semata, filem harus berisi informasi, pendidikan, dan tentunya filem sebagai sumber inspirasi hidup yang mencerahkan.

Chaerul Umam, Pendapatnya Tentang 60 Tahun Perfileman Nasional dan Keberadaan Komunitas Filem
Tahun 2010 jika dihitung mundur ke tahun 1950, terbilang 60 tahun. Ya, tepat 30 maret 2010 usia perfileman nasional genap berusia 60 tahun. Bagi insan perfileman, 30 maret adalah tanggal yang monumental bagi sejarah filem Indonesia. Pada tanggal itulah tepat dimulai shooting perdana Darah dan Doa atau The Longmarch yang bercerita tentang seorang prajurit divisi siliwangi yang melakukan hijrah ke Jawa Tengah, namun ia jatuh hati pada seorang tawanan yang notabene orang Belanda. Filem ini disutradarai oleh Usmar Ismail dan dibuat sepenuhnya oleh pribumi termasuk rumah produksinya, PERFINI (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Tanggal 30 maret ditetapkan sebagai hari filem nasional melalui Keppres No.25/tahun 1999 oleh Presiden B.J Habibie setelah menunggu lama untuk mendapat pengakuan dari pemerintah Indonesia. Nah, momentum 60 tahun perfileman nasional ini juga mendapat tanggapan dan komentar dari seorang Chaerul Umam. Ia dengan lugas mengatakan bahwa, filem Indonesia sangat terlambat perkembangannya terutama dalam hal produksi filem. Ia menandaskan, seharusnya Indonesia sudah mampu membuat filem-filem semi kolosal, filem sejarah dan filem spektakuler lainnya. Mungkin saja yang ia maksud adalah filem Indonesia di usianya yang ke-60 sekiranya dapat sekaliber filem-filem kolosal produksi Hollywood. Baginya, filem Indonesia dewasa ini masih berkutat pada tema horor, seks, dan sadisme.
Dalam pandangan Chaerul Umam, ada banyak faktor yang menyebabkan filem Indonesia terlambat untuk berkembang, diantaranya ialah adanya semacam penjajahan budaya, faktor politik, faktor ekonomi, dan pendidikan perfileman Indonesia yang tidak seimbang dengan usia perfileman nasional. Bayangkan, untuk negara seluas Indonesia ini cuma ada satu institusi/sekolah perfileman yaitu IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Diperparah dengan tema-tema yang monoton dan tidak berkembang, kurang ada inovasi. Begitupun ia berpendapat dengan persoalan teknologi yang berpengaruh terhadap operational cost, produksi filem yang sekali lagi tidak sesuai dengan persoalan tematik filem, tetap saja jalan ditempat. Tampak Chaerul Umam tidak melihat dalam satu dekade terakhir ini perkembangan filem Indonesia semakin tinggi grafik peningkatannya, dimana operational cost seperti yang ia khawatirkan tidaklah seperti itu karena berkat teknologi video siapapun dapat membuat filem. Menjamurnya berbagai macam lapisan masyarakat yang memanfaatkan kamera video handheld, memberikan arti secara lebih berarti bagi pondasi industri perfileman nasional. Tak dipungkiri, grafik produksi filem nasional yang terus naik ditambah apresiasi masyarakat sebagai penontonnya, tak lepas dari peranan para pembuat filem yang diklaim sebagai pembuat filem indie atau secara kolektif disebut komunitas filem.
Kejarlah Daku Kau Kutangkap
Lucunya, Chaerul Umam tidak melihat ini sebagai sesuatu yang menggembirakan bagi lanskap perfileman nasional. Tentunya mereka-mereka yang bekerja pada sektor ‘independen’ atau komunitas dengan beragam bentuknya, ikut dalam perumusan strategi kebudayaan nasional di tengah-tengah globalisasi, terlebih globalisasi informasi. Inilah yang masih dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang merasa kedudukannya sudah mapan, termasuk Chaerul Umam yang memandang sinis raison d’etre komunitas filem sebagai wadah penyalur hobi an sich. Ia masih berpandangan bahwa yang kita perlu bicarakan bagi perkembangan perfileman nasional ialah filem yang dapat ditonton dan mendatangkan income, sedangkan bagi filem-filem independen nanti dulu, belum saatnya. Karena filem-filem tersebut tidak menjual (bukan untuk ditayangkan di bioskop), meskipun ia sendiri mengakui bahwa filem-filem yang disajikan oleh penggiat filem indie atau komunitas bagus. Namun, ia harus ditayangkan di tempat-tempat khusus yang memutar filem tersebut. Nah, ambivalensi Chaerul Umam terlihat sangat jelas untuk masalah ini, padahal ia sendiri yang menyebutkan kalau filem harus berisi informasi, pendidikan, dan tentunya filem sebagai sumber inspirasi hidup yang mencerahkan. Celakanya, sebagian besar industri filem belum mau menyentuh apa yang dicita-citakan Chaerul Umam ini, termasuk ia sendiri pada filem terakhirnya yang ia buat belum lama ini dengan menjadikan agama sebagai komoditas. Dan beruntunglah para penggiat filem indie atau komunitaslah yang terus membuat karya-karya yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara sosial, politik, budaya dan estetika itu sendiri. Saya kira bukan hanya Chaerul Umam saja yang masih memandang sebelah mata keberadaan komunitas filem, melainkan mereka-mereka yang tidak mau terganggu kedudukannya di dalam ranah perfileman nasional, padahal kehadiran penggiat filem indie atau komunitas telah memberikan daya tawarnya bagi posisi Indonesia di mata internasional dan juga turut serta mendefinisikan perfileman nasional. Hal inilah yang kurang direspons oleh pihak-pihak yang kedudukannya tak mau diganti. Penyelenggaraan festival filem tidaklah semata monopoli Festival Film Indonesia (FFI). Kini kita dapat menjumpai ragam penyelenggaraan festival filem seperti Festival Film Pendek Konfiden (FFPK), Jiffest (Jakarta International Film Festival), JKFB (Jaringan Kerja Film Banyumas), dan lainnya yang mempunyai kontribusi besar bagi narasi kebudayaan Indonesia kontemporer.
Kini, Chaerul Umam telah mendefinisikan jikalau filem-filem Islam harus sesuai dengan syariat agama dan Chaerul Umam pun terjebak dalam pereduksian dan formalisasi syariat. Pendekatan naratif dan sinematiknya mengalami disoritentasi dengan mengasumsikan bahwa, yang Islami harus sesuai dengan konvensi syariat. Tafsir bias Chaerul Umam, setali tiga uang dengan semakin menguatnya formalisasi agama di berbagai bidang kehidupan di negeri ini. Alih-alih ingin memberikan pemahaman secara didaktis kepada umat, namun ia gagal untuk mentransmisikan pesan-pesan agama secara lebih luwes dengan mengedepankan Islam rahmatan lil' alamin. Di sini, kiranya patut mendapat catatan, apakah Chaerul Umam sudah meninggalkan pesan-pesan sosio-etik dari Asrul Sani yang telah membesarkan namanya, atau ia lupa dengan cita-cita Asrul Sani agar agama dapat memberikan sebuah pencerahan?

Sumber Foto: Google































Twitter
Digg
Del.icio.us
Reddit
StumbleUpon
Slashdot
Yahoo
Blogmarks
Technorati
Googlize this
Facebook





































"jadi Zizek memang enak. Bisa ngomong "seenak"-nya, bis...
Setelah beberapa lama, ada kendala teknis pada fasilitas komentar d...
tes
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisa...
tapi tonton dulu, soalnya suka ada PROMOTION ONLY yang muncul tiap ...
mmmm...von trier telah lama mati...bagi saya film ini tetap bermutu...
akhirnya yakin juga bahwa film keren ini ada maksudnya (lho!!) haha...
Boleh deh argumentasinya, tapi saya tetap bersepakat dengan para kr...
la'u cari aja di ambassador ato di lapak bajakan. banyak yg jual . . .
lom nonton filmnya juga,ada di jual ga yak???