I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Lisabona Rahman: Nonton Gratis Filem Berbobot Setiap Hari PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ajeng Nurul Aini   
Selasa, 12 Agustus 2008 03:32
Terkadang bosan melihat filem-filem yang disajikan bioskop-bioskop kebanyakan. Sebagian besar disebabkan ceritanya yang itu-itu saja. Para pemainnya juga sama. Menghadapi kondisi ini, kehadiran sebuah bioskop alternatif menjadi penting karena menghadirkan ruang tontonan yang berbeda. Di tengah kurangnya ruang menonton alternatif, Kineforum hadir dengan nuansa segar. Di sini, penonton disuguhkan filem-filem dalam dan luar negeri yang berbeda dari filem-filem arus utama, hampir setiap hari. Untuk masuk juga tidak dipungut biaya. Untuk menyingkap bagaiman konsep yang ditawarkan Kineforum, berikut adalah wawancara Jurnal Footage dengan Lisabona Rahman, Direktur Program Kineforum.


Sebenarnya Kineforum itu  di bawah cineplex 21 atau milik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)?
Semua gaji staf dan relawan Kineforum ditanggung DKJ. Begitu juga dengan programnya. Tempatnya diberikan oleh cineplex 21, atas dasar tanggung jawab sosial perusahaan. Tujuannya untuk memberi ruang bagi pendidikan filem.

Di Indonesia sendiri perkembangan bioskop semacam Kineforum ini bagaimana?
Kineforum bukan merupakan satu-satunya tempat alternatif menonton filem-filem berbobot. Ada Kinoki di Yogya, lalu Kineruku di Bandung. Tapi yang menjadi berbeda dari Kineforum adalah, di sini orang bisa nonoton banyak filem berbobot hampir setiap hari. Filem-filemnya juga diprogram dan karena ini cineplex, tempatnya juga enak untuk dikunjungi.

Perlu tidak ada tempat menonton seperti ini?

Buat saya harusnya tempat-tempat seperti ini penting. Jadi semestinya, pemerintah atau lembaga pendidikan memfasilitasi tempat-tempat seperti ini meski tidak seratus persen. Minimal di setiap kota harus ada satu tempat menonton alternatif. Banyak kota di Indonesia bahkan tidak punya bioskop sama sekali. Kalau kita membandingkan dengan Korea, pemerintahnya sengaja membuat bioskop dan memberi insentif bagi filem-filem bukan arus utama untuk diputar di bioskop-bioskop semacam ini. Betul bahwa penontonnya tidak dianggap sebagai penonton potensial bagi pasar filem arus utama, tapi bukan berarti mereka tidak boleh nonton filem dong? Nah, bagi saya, inisiatif seperti ini seharusnya ditiru, diduplikasi sebanyak mungkin, supaya kita nantinya tidak disalahkan ketika ada yang bertanya kenapa kita tidak pernah memberi alternatif di tengah-tengah berjubelnya filem-filem arus utama.

Daerah lain yang memiliki tempat representatif seperti Kineforum ada tidak?

Sejauh ini belum ada. Kinoki misalnya, berasal dari inisiatif pribadi, begitupun Kineruku. Dulu, di Purbalingga sempat ada komunitas bernama cinema lovers community, di mana mereka diberi ruang di aula kantor Bupati untuk memutar filem. Tetapi setelah beberapa waktu, akhirnya tidak perbolehkan lagi dengan alasan ruang kerjanya Bupati tidak boleh digunakan untuk kegiatan yang ‘macam-macam’. Mereka lalu membuat pemutaran filem keliling ke sekolah-sekolah dan komunitas. Mereka juga buat festival filem, tapi tempatnya pindah-pindah.

Prospek Kineforum ke depan seperti apa?
Saya sebenarnya tidak tahu tentang masa depan Kineforum dalam hal kelembagaan. Seandainya DKJ ganti kepengurusan apakah mereka akan meneruskan konsep ini atau tidak? Bayangan saya, sebagai institusi, sebaiknya Kineforum itu independen. Artinya, DKJ bisa saja memberi subsidi setiap tahunnya, tapi tidak seperti sekarang, di mana Kineforum langsung di bawah DKJ. Sebab kalau terus begini, eksistensi Kineforum akan sangat tergantung dengan kepengurusan DKJ. Sejauh ini masih ada konsisitensi, tetapi ke depan saya tidak tahu.

Jadi pemerintah kurang mendukung kehadiran bioskop independen?

Ya, kurang memang. Inisiatif Kineforum sendiri datangnya dari anggota dewan bukan dari pemerintah. Saya rasa pemerintah masih melihat filem sebagai sarana hiburan atau alat kampanye politik.

Apa gagasan mendasar dari Kineforum?
Pada dasarnya Kineforum dibentuk sebagai ruang pendidikan. Asumsinya, kalau penonton mengerti sejarah filem besar, maka ada kemungkinan ia akan punya pertimbangan lain dalam memilih filem. Di Indonesia belum ada ruang seperti ini, yang ada pun merupakan ruang inisiatif individu atau komunitas. Jadi kalau filem-filem di luar arus utama yang dipasarkan di Indonesia susah dilihat, maka penonton bisa melihatnya di Kineforum.

Kapan Kineforum mulai berjalan?
Oktober 2006. Sebelumnya ada art cinema yang merupakan inisiatif komite filem DKJ di masa kepengurusan sebelumnya (2005). Waktu itu mereka bikin pemutaran selama dua minggu dalam sebulan di tempat yang sama.

Ada beda tidak antara Kineforum dengan art cinema?

Terus terang kalau konsepnya saya tidak tahu. Saya berusaha cari dokumen seperti landasan konseptual art cinema tapi tidak ketemu. Yang saya ingat waktu itu saya diundang peluncurannya. Salah satu penggagasnya, Gatot, bilang: “Di Indonesia belum ada bioskop yang memutar filem-filem seni”. Jadi konsep art cinema itu lebih mirip ke ruang pameran, memutar filem-filem yang dianggap kuratornya sebagai ‘filem seni’. Sedangkan Kineforum tidak membatasi diri pada filem-filem seni saja. Kita tidak keberatan memutar filem-filem komersial selama ada keterkaitan dengan tema yang sudah kita rencanakan.

Anda sendiri bilang bukan orang yang biasa dalam bidang program, tantangannya apa?
Ketersediaan filem. Sebagai bioskop terprogram, Kineforum punya kelemahan mendasar yaitu tidak mampu membeli filem. Jadi filem-filem yang bisa kita dapatkan adalah filem-filem yang memang bisa diputar tanpa ada biaya pemutaran atau produsernya mau memutar filemnya dengan sistem bagi hasil. Nah, filem-filem yang  bisa diputar dengan prinsip seperti itu susah sekali didapat. Kalaupun bisa, kami kesulitan juga menyediakan biaya pengiriman filem-filem dari luar negeri. Itu kesulitannya. Di sisi lain, karena keterbatasan-keterbatasan itu, saya juga jadi bisa merintis jalan lain. Saya kemudian bisa berkenalan dengan sisi lain dunia produksi dan distribusi filem bukan arus utama.

Tujuan Kineforum sendiri apa?
Nonton filem itu kan pilihan personal, sama seperti pilihan membaca buku, majalah atau mendengar musik. Nonton  filem seperti itu, apalagi sekarang ada teknologi home video, dvd bajakan. Artinya, orang sudah membentuk seleranya sendiri. Tujuan Kineforum, walaupun tidak bisa memenuhi semua kebutuhan penonton karena begitu beragamnya mereka, setidaknya memberikan perbedaan menonton filem yang ditempatkan dalam suatu konteks program. Lebih dari itu, keinginan kami di sini adalah memberi banyak pilihan kepada penonton untuk menonton filem-filem yang bukan arus utama.

Kineforum tidak mengenakan biaya masuk, grafik penontonnya sendiri bagaimana?
Sangat bergantung pada tema. Januari dan Februari itu sepi, karena biasanya orang baru selesai nonton JIFFest (Jakarta International Film Festival), jadi mereka libur dulu ke bioskop. Maret itu ramai, karena itu satu bulan penuh mengenai sejarah filem Indonesia. Biasanya orang bukan hanya bernostalgia tapi banyak yang ingin tahu filem-filem lama Indonesia itu seperti apa. Bulan puasa Ramadhan juga ramai, entah karena iseng atau numpang tidur, tapi bioskop penuh. Saya juga melihat orang-orang yang datang itu tadinya kebanyakan cuma numpang lewat, kemudian jadi penonton rutin.

Berpengaruh tidak dengan gagasan dan tujuan Kineforum?
Tidak ada masalah. Bagaimana pun, tanggapan publik tidak pernah bisa diprediksi.

Bermasalah tidak dengan jumlah penonton yang tak menentu?
Masalah mendasar sebetulnya efisiensi. Ada biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalankan ruang ini. Artinya, kalau yang datang cuma dua orang tentu akan berbeda dengan 70 orang. Tapi buat saya bukan itu tujuan utamanya. Jadi sedikitnya penonton tidak lantas membuat kita menghentikan program. Meski yang datang menonton hanya satu orang kita tetap menghargai.

Filem seperti apa yang ramai ditonton?

Filem-filem Indonesia. Berbagai genre. Kalau kita hitung indeks penonton, 15 peringkat teratas pasti ditempati oleh filem-filem Indonesia, atau yang ada hubungannya dengan Indonesia.

Program Kineforum selain pemutaran filem?
Program-program lain seperti diskusi dan rangka kerja biasanya dilakukan tapi bukan Kineforum yang menjadi penyelenggara.

Ada tidak gerakan dari para pembuat filem Indonesia untuk membicarakan masalah keberadaan bioskop alternatif kepada pemerintah?
Sebetulnya ada. Tapi tidak terstruktur dengan rapi, dalam arti bukan berbentuk satu kelompok lobi yang solid dan benar-benar konsentrasi dalam mencapai tujuannya.

Perbedaan mendasar antara Indonesia dengan negara-negara lain?
Dari segi penonton, mereka memang memiliki minat tinggi untuk nonton di bioskop terprogram yang biasanya juga memutar filem-filem susah dicari. Di Indonesia masih susah buat seperti ini, karena mudahnya mendapat filem-filem bajakan. Jadi di sini kita tidak punya kebiasaan mengumpulkan orang kecuali mereka yang menjadi bagian dari komunitas. Dari segi pemerintah, negara-negara lain memberi subsidi kepada masyarakat filemnya. Korea misalnya, memberi subsidi 100% ke komite filem untuk membuat dan mendistribusikan filem, termasuk di dalamnya menyelenggarakan bioskop-bioskop terprogram seperti Kineforum. Di Jerman, bioskop-bioskop terprogram diselenggarakan oleh masyarakat perfileman mereka, di mana mereka mendapat subsidi dari pemerintah kotanya masing-masing, karena hal tersebut dianggap sebagai bagian dari kebudayaan kota. Kalau di Jepang, ada Lembaga Swadaya Masyarakat yang disubsidi pemerintah untuk membuat museum filem dan sebagainya. Inisiatifnya beda-beda, tapi hampir semuanya mendapat dukungan dari pemerintah berupa subsidi, tapi orang-orang yang terlibat di dalamnya bekerja secara independen.
Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 03 Maret 2010 20:18
 

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158841

Artikel.Lain_!

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

Katalog Massroom Project
Jumat, 03 Juli 2009

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

Dian Herdiany: Komunitas Video Harus Berjalan Mandiri
Senin, 21 Juli 2008

Berawal dari peristiwa gempa Yogyakarta yang mengenaskan  di tahun 2006, komunitas Kampung Halaman datang dan menawarkan program pemberdayaan masyarakat melalui video. Bidikannya muda-mudi. Pendekatannya yang unik membuat Kampung Halaman berhasil...

Arkeologi Seni Media
Sabtu, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng
Rabu, 14 Juli 2010

Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng * * * 

Orkestrasi Filem Bisu di Gedung Kesenian Jakarta
Kamis, 12 Juni 2008

Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Rabu, 19 Agustus 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Lisabona Rahman: Nonton Gratis Filem Berbobot Setiap Hari
Selasa, 12 Agustus 2008

Terkadang bosan melihat filem-filem yang disajikan bioskop-bioskop kebanyakan. Sebagian besar disebabkan ceritanya yang itu-itu saja. Para pemainnya juga sama. Menghadapi kondisi ini, kehadiran sebuah bioskop alternatif menjadi penting karena...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia
Senin, 08 Juni 2009

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah dulu. Waktu itu, dosen saya bercerita tentang perkembangan evolusi tubuh manusia yang sudah bisa...

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Sabtu, 06 Maret 2010

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian...

Suatu Hari Kita Hanya Akan Mengenang Seluloid
Selasa, 12 Agustus 2008

Filem apa yang paling kamu ingat? Fiksi dan dokumenter: filem. Sampai waktu dua tahun lalu ketika saya keluar kamar untuk menonton filem The Mirror, karya Jafar Panahi, saya merasa telah teringatkan pada kategori untuk jenis-jenis filem yang sekian...

Di Dasar Segalanya: Citra Kecemasan Surealis
Minggu, 20 Desember 2009

Pada 17 Desember, 2009, saya berkesempatan untuk menonton filem kedua Paul Agusta, Di Dasar Segalanya (At The Very Bottom of Everything) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbeda dengan filem pertamanya, Kado Hari Jadi, kemasan filem ini...

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Sabtu, 03 Juli 2010

Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump...

Farah Wardani: Ini Situs Arsip Seni Rupa Pertama di Indonesia
Minggu, 23 Agustus 2009

Pada 19 Agustus 2009, Indonesia Visual Art Archive meluncurkan situs arsip seni rupa pertama di Indonesia. Namanya iclick.IVAA. Pada kesempatan itu, Jurnal Footage mewawancarai Farah Wardani, Direktur Eksekutif IVAA. Berikut hasil wawancara kami....

Refleksi Ontologi Sinematografi
Rabu, 22 Oktober 2008

Ontologi sinematografi dan refleksinya pada sinema merujuk pertanyaan soal apa itu filem, apa yang membuat sebuah filem menjadi filem, dan untuk menilai apa yang akan disebut Wittgenstein sebagai tata bahasa konsep kita soal filem beserta peranan...

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Selasa, 15 Juli 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Kamis, 29 Juli 2010

PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa...

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan
Sabtu, 19 Desember 2009

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Selasa, 19 Mei 2009

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

Tentang Uraian Luar Layar
Sabtu, 29 Agustus 2009

Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu....

Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010
Jumat, 25 Juni 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...

Chris Marker: Dalam Ingatan Teknologi Baru
Jumat, 12 Juni 2009

1. Ingatan KakuSaya ingat membicarakan filem cerita mutakhir Chris Marker, Level Five (1996), dengan seorang teman saat pertama kali filem itu keluar. Pada umumnya ia terkesan, tapi gundah oleh istilahnya sendiri: “pandangan seorang tua atas...

Fritz Lang dan Ekspresionisme Jerman
Kamis, 12 Juni 2008

Fritz Lang adalah salah seorang sutradara terpenting dalam sejarah filem dunia. Sebagai wakil ekspresionis di tahun 1920an, dia telah membuat banyak filem bisu berkualitas. Akibat represi partai Nazi Jerman, dia pun beremigrasi ke Amerika Serikat....

Tabu: Representasi Masyarakat Pribumi Polinesia
Kamis, 31 Desember 2009

Matahi, seorang laki-laki pribumi di sebuah pulau Pasifik Selatan bernama Bora-bora, jatuh cinta kepada gadis pribumi bernama Reri. Suatu hari, Hitu, seorang pemuka suku yang diutus oleh pemimpin seluruh pulau, datang untuk membawa Reri sebagai...

Dominasi Produksi Visual Video
Selasa, 18 Agustus 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 Pernyataan dua penulis budaya visual di atas tampaknya mampu...

Jalan Tak Ada Ujung: Transaksi Kesepakatan Tanda
Senin, 24 November 2008

“Ada patokannya ga?”Empat kali pertanyaan ini diutarakan oleh si penelepon dalam video Jalan Tak Ada Ujung karya Maulana Adel Pasha. Pertanyaan yang begitu penting bagi si penelepon untuk menemukan rumah ‘itu’. Transaksi tanda pun terjadi....

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net