I  S  S  N  1  9  7  9  -  5  0  0  9   KILAS:  
Indonesian
Main.Page
Massroom Project Catalogue PDF Print E-mail
Written by Jurnal Footage   
Friday, 03 July 2009 17:21
Last Updated on Friday, 03 July 2009 17:34
 
Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan PDF Print E-mail
Written by Andang Kelana & Akbar Yumni   
Tuesday, 30 June 2009 19:45

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia)

Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival ini diramaikan 50 partisipan dari Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, dan luar negeri. Pembukaan acara diresmikan oleh Ketua Dewan Kesenian Surabaya pada 11 Juni 2009 serta dimeriahkan penampilan kelompok Disc Jockey dan Visual Jockey. Bertempat di Balai Pemuda, Surabaya, festival ini berlangsung hingga 13 Juni 2009. Berikut wawancara Jurnal Footage dengan Benny Wicaksono, Direktur Festival VIDEO:WRK dan Project Manager Globalappleworks.


Bisa cerita tentang Globalappleworks (GAW) dan Surabaya New Media Art Center (SNMAC)?

Globalappleworks berdiri sejak 2005. Selama 4 tahun itu kami sudah memiliki banyak portofolio kegiatan-kegiatan seni, utamanya seni kekinian. Orientasi kami anak muda, baik visual maupun musik. GAW sendiri menjadi satu tempat berkumpul anak-anak muda di Surabaya, yang punya kesamaan minat dan visi untuk melakukan satu praktik kerja kolektif. Meskipun di luar ini, teman-teman yang lain juga aktif melakukan kerja kreatifnya sendiri. Sedangkan SNMAC merupakan naungan di bawah GAW yang berfokus pada pendekatan lebih teknologis. Kebetulan sekali di GAW kedekatan-kedekatan dengan teknologi itu dominan. Teman-teman di sini mayoritas adalah VJ, musisi elektronik, perancang grafis, pembuat video dan seniman media baru. Jadi kami sepakat untuk mendirikan SNMAC, dan coba membuat acara-acara kecil yang bersentuhan dengan teknologi. Kami juga mencoba untuk membuat pusat data siapa saja yang menjadi pelaku-pelaku teknologi ini di Surabaya. Pada dasarnya, kami melihat potensi besar penggunaan media di Surabaya. Salah satunya seperti dilakukan oleh teman-teman Institut Teknologi Surabaya yang menyelenggarakan lomba cipta elektronik nasional. Karya-karya mereka sangat bernuansa media baru.

Last Updated on Friday, 03 July 2009 17:55
Read more...
 
Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial PDF Print E-mail
Written by Akbar Yumni   
Friday, 12 June 2009 22:12

(temporarily, only available in Bahasa Indonesia)

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba terus berjalan, melewati bangunan dengan penanda bertulisan ‘Chin Joe Kie’, dan sedikit latar toko bertulisan ‘Fuji Film’. Perjalanan Tuba berlanjut, beberapa lintasan dalam bingkai melewati bangunan berpenanda ‘M.K. Brohim’, ‘Carol Confeccoes’, latar papan reklame bir ‘Heineken’ tampak sekilas. Rangkaian gambar perjalanan Tuba kemudian melewati bangunan berpenanda ‘Maharadja’, ‘Joen Siong’, yang di sekitarnya latar reklame bertulisan ‘Coke’ serta ‘Sprite’. Di sela-sela gambar bangunan kota, memuat lalu lalang kesibukan aktivitas para kulit berwarna. Mereka tampak seperti etnis Negro dan India yang sedang berorganisasi dalam ruang kota, menjadikan kumpulan gambar tersebut sebagai citra antropologi kota. Kini Tuba pun melintasi bangunan peribadatan macam masjid, gereja, serta bangunan beraksara Tionghoa. Beberapa bangunan permukiman yang sudah usang terjejak, lalu sedikit melintasi bekas lori kereta. Gambar tersebut seakan mengajak penonton untuk mundur ke belakang, membawa ke dalam relung kesadaran sejarah. Tuba lalu menjadi mata, berkolase dengan lanskap yang dilintasinya.

Suara-suara Tuba yang sedang berjalan tampak sebagai ‘subjek’ yang melihat, dengan latar lanskap yang menyejarah. Rangkaian Tuba ini telah menumpukkan bingkaian gambar tentang etnografi kota pascakolonial, namun kekuatan konstruksi van der Keuken yang membimbing para penonton ke dalam kesadaran akan waktu dibanding kesadaran akan ruang. Selubung-selubung represi yang mengental dalam kebudayaan kota pascakolonial, disibak oleh perjalanan sebuah mata yang berkolase. Perjalanan tentang sejarah kedatangan kaum pekerja perkebunan dari berbagai etnis, yang disatukan oleh kolonialisme. Dan mata tersebut adalah sebuah Tuba, yang telah menyingkap sejarah represi kolonial.

Last Updated on Friday, 12 June 2009 23:50
Read more...
 
Chris Marker: In Memory of New Technology PDF Print E-mail
Written by Catherine Lupton   
Friday, 12 June 2009 21:17
1. An Awkward Memory

I remember discussing Chris Marker’s most recent feature film, Level Five (1996), with a friend of mine when it first came out. She was generally impressed with the film, but irritated by what she described as “an old man’s view of the Internet”. Although I did not share her annoyance, I could see what she meant. Even at the moment of its release, before the turnover of accelerated obsolescence, the computer hardware and the digital hypermedia effects that both appeared in Level Five (as characters), and had been used to generate it, looked distinctly quaint, old-fashioned and clumsy. Watching for the first time, I had noticed the yellowing plastic casing of the Apple II GS, the low resolution of its blinking screen. Admiring the O.W.L. Gallery of Masks sequence for its lateral evocation of ‘Laura’ (Catherine Belkhodja) as a mise-en-abyme of receding and ambiguous projections, and for Marker’s evident relish in amusing himself with the Hyperstudio software, I had nonetheless winced inwardly at the awkwardness and tackiness of the effects, their uncomfortable evocation of a late ’70s pop video heralded by a brashly pounding soundtrack.

Despite being accustomed to Chris Marker’s effortless dialectics, his ingrained habit of proceeding elegantly by contraries, this quality of awkward archaism radically disrupted my received sense of his current incarnation as a new media pioneer. Over the last two decades, Marker has diversified from making more-or-less unconventional documentary essay-films, to produce (among other works) two major multimedia installations: Zapping Zone (1990) and Silent Movie (1995), innovative excursions into television such as The Owl’s Legacy (1989) and The Last Bolshevik (1993); and, most recently, the CD-ROM Immemory (1997). More generally, at a point in history when the medium of film is frequently perceived to be threatened with extinction by the advent of digital technologies, Marker as filmmaker has signally failed to join in with the chorus of doom, and has instead become an enthusiastic advocate of the new media revolution, abandoning the small-gauge film camera in favour of the Sony Handycam, effortlessly disappearing into his Apple Mac and famously going so far as to communicate only by email.
Last Updated on Saturday, 13 June 2009 00:46
Read more...
 
Love is Colder Than Death PDF Print E-mail
Written by Jurnal Footage   
Thursday, 18 June 2009 20:57

Liebe kälter als der Tod. Love is Colder Than Death, is a 1969 German film directed by Rainer Werner Fassbinder (1945-1982) when he was 25th years old. It is his first feature film. It starred by Fassbinder himself as a petty hood, Franz. The film is dedicated to "Claude Chabrol (1930), Eric Rohmer (1920), Jean-Marie Straub (1933), Linio and Cuncho." The last two are characters in Damiano Damiani's (Italy) 1966 film Quien sabe?.

This films can be watch at Forum Lenteng's Library as well as other Rainer Werner Fassbinder films. Moreover, you can find 10 of his films at Goethe Institut Jakarta: Martha (1974), Fontane Effie Briest (1974), Angst Essen Seele Auf (1974), Katzelmacher (1969), Lili Marieen (1981), Die Sehnsucht der Veronika Voss (1982), Lola (1981), Die Ehe der Maria Braun (1979), Satansbraten (1976), Ich will ditch nur-dass ihr mich liebt (1976).

- - - - -

Reference:

Goethe Institut

Fassbinder Foundation

Last Updated on Thursday, 18 June 2009 21:10
 
Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah) PDF Print E-mail
Written by Kwee Tek Hoay   
Friday, 12 June 2009 19:23

(only available in Bahasa Indonesia)

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1
Keluaran The Cosmes Film Corporation di Bandung

Panorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4

Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film dengan judul di atas, yang dipertunjukkan di Happy Cinema di Pancoran, Batavia. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk menulis pandangan atas film-film keluaran Indonesia, maka film yang satu ini pun tidak ingin kami kecualikan, apalagi film ini keluaran pertama dari satu pabrik film yang baru lahir, yang belum diketahui bagaimana kualitas produksinya.

Berbeda dengan film-film buatan Tan’s Film Company yang ditujukan terutama untuk penonton kelas murah, film ini sebagai produksi pertama dari The Cosmos membuat kita berasumsi bahwa film ini diciptakan untuk “makanannya” penonton kelas mahal. Bukan saja untuk bangsa Eropa di Indonesia, tapi juga dimaksudkan untuk mendesak pasar-pasar film di negeri-negeri Barat, terutama di Holland. Bukan saja cerita yang dipilih dianggap mampu menarik perhatian golongan kulit putih, yaitu kehidupan pengebun di pabrik-pabrik di Priangan, dengan menyertai gambaran dari kehidupan dan kepercayaan Bumiputera. Gambaran pemandangan pertanian dan perburuan di hutan-hutan lebat di Jawa dan Sumatera, tapi juga, yang membuat kami heran, keseluruhan teksnya bahasa Belanda, yang pasti saja membuat jengkel sebagian besar penonton yang malam itu duduk berjejal di Happy Cinema yang ingin menyaksikan film baru keluaran Indonesia. Belakangan kita diberi keterangan oleh salah satu pengurus The Cosmos bahwa teks bahasa Melayu sedang dipersiapkan. Film yang diputar malam itu memang bukan untuk dipertunjukkan dalam gedung bioskop di kampung Tionghoa, tetapi lantaran ada halangan, film dengan teks Melayu belum bisa diputar dan terpaksa memutar yang berteks bahasa Belanda saja.

Jalannya cerita seperti di bawah ini:
Seorang Belanda bernama van Kempen, administrator dari pabrik teh Tjiranoe, memiliki isteri simpanan, seorang pemetik teh bernama Sitti, sebagai Nyai. Darinya ia mendapatkan dua anak, seorang lelaki yang diberi nama Adolf, dan seorang perempuan, dinamakan Annie. Ketika van Kempen berangkat dengan meninggalkan mereka, Nyai dan anak-anaknya, ke Eropa. Mereka hanya dikirimkan uang belanja setiap bulan saja. Di Eropa van Kempen menikah dengan seorang janda yang dari suaminya dulu memiliki seorang anak perempuan bernama Ervine, dan van Kempen tinggal di Eropa sampai 15 tahun lamanya, dan kemudian kembali ke Indonesia.

Last Updated on Friday, 12 June 2009 23:25
Read more...
 
WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia PDF Print E-mail
Written by Otty Widasari   
Monday, 08 June 2009 15:17

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah dulu. Waktu itu, dosen saya bercerita tentang perkembangan evolusi tubuh manusia yang sudah bisa diperkirakan para ahli antropologi jauh-jauh hari. Menurut ceritanya, pada abad mendatang, bentuk tubuh manusia akan bulat seperti bola. Itu disebabkan semua kebutuhan manusia dipengaruhi dan dibantu oleh sistem komputerisasi. Bahkan saat ini ketergantungan manusia kepada komputer sudah demikian tingginya. Contoh proses itu bahkan sudah terjadi pada diri saya sendiri. Saya seorang yang gagap teknologi, tapi keinginanan memiliki komputer pribadi menguat setelah kerja semakin membutuhkan kemudahan.

Kemudian, sejak komputer pribadi itu telah menjadi milik saya, maka aneh rasanya kalau sehari saja saya tidak membuka komputer, walau hanya sekadar bermain game. Bermain adalah kebutuhan mendasar saya. Sebelumnya, saya suka sekali mengisi TTS atau sudoku. Bahkan, saya juga biasa dan bisa merasakan kegirangan bermain halma atau catur walau sendirian, tanpa lawan, bila saat itu memang tak ada lawan. Namun sejak tenggelam dalam permainan paling sederhana sekalipun di komputer, saya tak pernah lagi menyentuh lembar TTS atau sudoku, apalagi halma dan catur yang sangat mudah terjatuh berantakan saat disenggol anak saya yang sedang bermain papan luncur di dalam rumah.

Last Updated on Monday, 08 June 2009 15:35
Read more...
 
Documemory: A Bibliography PDF Print E-mail
Written by Blind Librarian   
Thursday, 04 June 2009 02:21

A. Documentary Film

100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours
. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.

Barnouw, Eric. Documentary: A History of the Non-Fiction Film. London: Oxford, 1974.

Barsam, Richard Meran. Nonfiction Film: A Critical History. New York: Dutton, 1973.

Bruzzi, Stella. New Documentary: A Critical Introduction. London: Routledge, 2000.

Burton, Juliane, ed. The Social Documentary in Latin America. Pittsburg: Univ. of Pittsburg Press, 1990.

Gardner, Robert dan Ákos Östör. Making Forest of Bliss: Intention, Circumstance and Chance in Nonfiction Film. Cambridge: Harvard University Press, 2001.

Guynn, William. A Cinema of Nonfiction. Rutherford: Fairleigh Dickinson Univ. Press/London: Associated Univ. Presses, 1990.

Hohenberger, Eva dan Judith Keilbach, hrsg. Die Gegenwart der Vergangenheit: Dokumentarfilm, Fernsehen und Geschichte. Berlin: Verlag Vorwerk 8, 2003.

Lovell, Alan dan Jim Hillier. Studies in Documentary. New York: Viking, 1972.

Mamber, Steven. Cinema Verite in America: Studies in Uncontrolled Documentary. Cambridge, Mass: MIT Press, 1974.

Nichols, Bill. Representing Reality: Issues and Concepts in Documentary. Bloomington: Indiana University Press, 1991.

Rabinowitz, Paula. They Must Be Represented: The Politics of Documentary. London, New York: Verso, 1994.

Renov, Michael, ed. Theorizing Documentary. New York: Routledge, 1993.

Renov, Michael. The Subject of Documentary. Minneapolis: Univ. of Minnesota Press, 2004.

Rosenthal, Alan. New Challenges for Documentary. Berkeley: Univ. of California, 1988.

Roth, Wilhelm. Der Dokumentarfilm seit 1960. München: Bucher, 1982.

Trinh, T. Minh-ha. “Documentary Is/Not a Name.” October 52 (Spring 1990), 76-98.

Vertov, Dziga. Kino-Eye: The Writings of Dziga Vertov. Ed. Annette Michelson. Trans. Kevin O’Brien. Berkeley: Univ. of California Press, 1984.

Warren, Charles, ed. Beyond Document: Essays on Nonfiction Film. Hanover dan London: Wesleyan University Press, 1996.

Winston, Brian. Claiming the Real: The Documentary Film Revisited. London: BFI, 1995.

Zagaglia, Paolo et al, eds. Cinéma et réalité. Bruxelles: Vie Ouvrière/Centre de l’audio-visuel, 1982.

Last Updated on Thursday, 04 June 2009 17:39
Read more...
 
Nicolás Echevarría: Myth as a Form of Creativity PDF Print E-mail
Written by Mirza Jaka Suryana & Hafiz   
Wednesday, 27 May 2009 16:41

(temporarily available only in English)

Nicolás Echevarría is a director, producer and cinematographer who has worked in both film and television, making documentaries and fiction films. One of Mexico’s prominent filmmakers. He began to make films following the massacre at Tlatelolco, section of Mexico City, in 1968. His film combines a post-colonial perspective with carefully chosen music, camerawork and montage elements. From a performance Super 8 film about a contortionist to an engaging documentary on Indian creation myths, his approach to his subjects always demonstrates profound empathy, intimacy and scrupulous viewing. His feature debut Cabeza de Vaca (1988) was an official selection of the Berlin Film Festival and represented Mexico in the Academy Awards. The film also won the Makhila d’Or Award at the Biarritz Film Festival and Best Film at the Muestra de Cine Mexicano, among other prizes. He received a John Simon Guggenheim Memorial Foundation Fellowship, among other honors. Echevarría studied architecture at the Universidad de Guadalajara, music at the Conservatorio Nacional in Mexico City, and animation at the School of Visual Arts in New York. Done lots of works in the subjects of indigenous people in Mexico. At one occasion at the International Short Films Festival Oberhausen, we had a great opportunity to do an interview with the man himself. The discussion took place at a cozy street café near Lichtburg Palast, the festival venue, in the chill Saturday afternoon of May 2nd 2009. He told us that myth is an important element to provoke creativity. “I am a believer,” he said. “I believe in myths.” Following to the statement, it is interesting to know how he viewed the world that surrounds him. So, here it is, our discussion with one of Mexico’s foremost filmmakers, Nicolás Echevarría.

photo © Daniel Gasenzer / www.kurzfilmtage.de

Last Updated on Wednesday, 03 June 2009 23:25
Read more...
 
« StartPrev1234NextEnd »

Page 1 of 4

Today.Quotation_:

When I'm shooting on location, you get ideas on the spot—new angles. You make not major changes but important modifications, that you can't do on a set. I do that because you have to be economical.

 [Satyajit Ray]

Latest.Comments_!

copyleft.2009.jurnalfootage.net valid-rss