I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

KAOS FOOTAGE
(Charlie Chaplin)

chaplin-front

RP 85.000 | US$ 10
Without Shipping

ORDER BY EMAIL

Jurnal.Footage_!

banner-akumassa

Figure_!

alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
namjunepaik
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
toshio-matsumoto

KAOS FOOTAGE
(akumassa)

kaos-akumassa-front

RP 50.000
Without Shipping

ORDER BY EMAIL

With.Support.By_:

Ambivalensi Sikap Chaerul Umam PDF Print E-mail
Profile
Written by Renal Rinoza Kasturi   
Wednesday, 10 March 2010 17:35

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)

Al-Kautsar, Gadis Marathon, Titian Serambut dibelah Tujuh, Hati yang Perawan, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Bintang Kejora, Keluarga Markum, Joe Turun ke Desa, Boss Carmad, Oom Pasikom (Parodi Ibukota), Nada dan Dakwah, Ramadhan dan Ramona, Fatahillah, dan baru-baru ini filem Ketika Cinta Bertasbih adalah filem-filem yang pernah disutradarai oleh Chaerul Umam.  Namanya yang tak asing lagi dalam jagat perfileman nasional. Dalam sebuah kesempatan, saya berbincang-bincang dengannya dan ia mengutarakan komentarnya mengenai kompleksitas dunia perfileman nasional mulai dari pandangannya terhadap perjalanan filem Indonesia, industri filem, tema-tema filem yang ia pilih, lembaga sensor, hingga perkembangan mutakhir dunia perfileman nasional yang mencakup kedudukan komunitas dan perkembangan teknologi filem dewasa ini. Dari komentar-komentarnyalah saya temukan cara pandang dia dalam melihat konstelasi perfileman nasional yang sama-sama tak kalah rumitnya dengan persoalan mendasar bangsa ini. Terlebih lima bulan yang lalu, DPR mensahkan RUU Perfilman menjadi UU. Namun, pandangan yang ia kemukakan tidaklah sesuai dengan ideologi filem-filem yang ia buat terdahulu. Kenapa tidak, Chaerul Umam tetap memelihara status quo dalam mencermati perkembangan mutakhir filem Indonesia. Di satu sisi ia sangat prihatin dengan kondisi perfileman nasional yang tetap saja berselera rendah dan di sisi lain ia rupanya sudah sangat tertinggal dengan dinamika basis infrastruktur dan suprastruktur perfileman nasional khususnya jerih payah komunitas filem dalam membangun pondasi tatanan perfileman nasional. Dan lebih parah lagi, filem-filem yang ia sutradarai paska reformasi ini mengalami kemunduran total.

chaerul_umam_003

Chaerul Umam tumbuh dan dibesarkan dalam industri filem tak terlepas dari pengaruh Asrul Sani. Asrul Sani telah berhasil mengkadernya menjadi seorang sutradara yang patut diperhitungkan, terbukti debut perdana Chaerul Umam sebagai sutradara dalam Al-Kautsar telah berhasil mengantarkan filem ini masuk nominasi pada Festival Film Asia XXIII di Bangkok, Thailand 1977. Hampir semua filem yang ditulis oleh Asrul Sani, nama Chaerul Umam selalu dipercaya sebagai sutradara. Otoritas itu secara legitimate disandang Chaerul Umam dalam menerjemahkan gagasan Asrul Sani yang dituangkan dalam skenario, dan dibuat melalui gaya penyutradaraan Chaerul Umam. Pada tahun 1982, Chaerul Umam kembali menyutradarai filem-filem yang ber-genre religi dan tak tanggung-tanggung, filem yang ia sutradarai adalah sebuah filem Islam pertama di negeri ini, Titian Serambut Di Belah Tujuh yang dibuat tahun 1959 oleh Asrul Sani. Dalam filem ini, Chaerul Umam mampu memberikan sentuhan signifikan dan banyak pengamat yang memuji kualitas filem itu. Dan tentunya pujian juga datang dari sang empu, Asrul Sani. Titian Serambut Dibelah Tujuh tampil sebagai filem religi yang memukau, Chaerul Umam mampu memberikan kekuatan watak pada tiap karakter tokohnya untuk dapat mengartikulasikan persoalan-persoalan yang menimpa masing-masing pemainnya. Di samping itu, filem ini mempunyai kekuatan pada unsur-unsur stilistiknya dan nama Chaerul Umam pun serta merta terangkat karena berhasil memadukan semua elemen-elemen konstruksi filem. Hal yang sama juga berlaku pada filem Kejarlah Daku Kau Kutangkap yang meraih box office dengan capaian 166.734 penonton, sebuah angka yang fantastis ketika itu. Filem ini dengan mantap berhasil memenuhi harapan penonton sebagai bentuk filem komedi cerdas dengan menceritakan sebuah permasalahan suami-istri di sebuah rumah tangga. Berbagai Piala Citra, Piala Antemas dan filem terlaris di Jakarta sepanjang medio 1986 telah diraih filem besutan Chaerul Umam ini. Prestasi ini tak cukup berhenti disini saja dan terus berlanjut ke filem-filem berikutnya yang ia sutradarai. Filem-filem yang ia sutradarai berhasil menyedot perhatian penonton, lantaran filem-filem tersebut mempunyai basis persoalan yang riil dan dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat. Terlebih filem itu dikemas secara komedi dan karikatural seperti dalam Oom Pasikom, sebuah filem komedi adopsi dari tokoh kartun Oom Pasikom yang dimuat di harian Kompas. Filem yang menceritakan fragmen-fragmen masyarakat ini, mampu mengartikulasikan kisah-kisah orang pinggiran akibat kebijakan pembangunan pemerintah orde baru yang salah sasaran dan berdampak terhadap tindakan sosial masyarakatnya.

Ketika Cinta Bertasbih (trailer)

Last Updated on Wednesday, 10 March 2010 21:04
Read more...
 
Dengan Ringan Melihat Sejarah Seni Rupa Dunia pada Video 70 Million PDF Print E-mail
Articles
Written by Hafiz   
Wednesday, 10 March 2010 13:36

(Temporarily available only in Bahasa indonesia)

Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah kebudayaannya terus berlaku hingga sekarang. Karena memang itulah hakekat sebuah kebudayaan yang selalu diinterpretasi ulang oleh generasi selanjutnya. Begitu juga dalam dunia pop. Interpretasi ini juga terjadi, bukan hanya mengacu kepada kepentingan industri ataupun komersial, namun daya interpretasi sejarah kebudayaan inilah sehingga sebuah budaya pop bisa dilihat strategisnya.

Begitulah yang saya temukan pada video musik grup band asal Prancis, Hold Your Horses. Pada akhir Januari 2010, band indie ini merilis sebuah video yang banyak dibicarakan dalam situs-situs musik video dan seni rupa. Kenapa? Karena video ini menghadirkan 30 karya maestro seni rupa Barat yang diperankan oleh para personilnya.

da-vinci-ok
birth-of-venus
rembrandt-dr-tulp

Video musik 70 Million menjadi menarik karena tidak pernah terbayangkan adegan-adegan "klasik" yang tergambar pada karya agung itu dihadirkan lagi dalam interpretasi budaya pop. Video musik ini membawa penonton pada penjelajahan visual tentang sejarah seni rupa dunia. Walaupun pada tiap adegan video yang produksi L’Ogre Productions ini tidak menjelaskan karya-karya siapa saja yang dirangkum dalam video 70 Million. Inilah tantangannya.

vermeer-ok

Last Updated on Wednesday, 10 March 2010 16:29
Read more...
 
“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi PDF Print E-mail
Profile
Written by Aditya Adinegoro   
Saturday, 06 March 2010 15:04

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”.

- Nam June Paik (1932-2006)

 

Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian yang diatur oleh seorang penguasa tunggal yang disebut dengan “Big Brother”. Dalam novel tersebut, Orwell menulis dan “meramalkan” tentang sebuah teknologi yang digunakan oleh Big Brother sebagai alat untuk pengawasan serta pengontrol pikiran secara massal. Alat itu bernama “Telescreen” yang hadir di setiap rumah-rumah penduduk, dan memutarkan program propaganda setiap harinya selama 24 jam., dan sayangnya ketika Telescreen dinyalakan ia tidak dapat dimatikan sama sekali…

nam_june_paiknam-june-paiknam_june_paik1

 

Mengenang Nam June Paik

Televisi telah menjadi perhatian dan fokus utama dalam karya-karya Nam June Paik. Ia adalah seniman pertama yang menjadikan video dan televisi sebagai medium dalam berkarya. Melalui proyek televisi, instalasi, performance, kolaborasi, pengembangan peralatan baru bagi seniman, menulis serta mengajar, ia telah melakukan kontribusi kepada penciptaan sebuah budaya media yang akhirnya meluaskan bahasa dan definisi dari pembuatan karya seni.

Lahir di Seoul-Korea Selatan pada 1932, Paik merupakan anak kelima dan ayahnya seorang pengusaha tekstil. Sejak kecil ia telah dilatih untuk menjadi pianis musik klasik. Pada 1950, ia bersama keluarganya meninggalkan tanah kelahirannya akibat perang Korea. Pertama-tama mereka mendarat ke Hong Kong, lalu kemudian menetap di Jepang. Di Jepang, Paik belajar tentang Sejarah Seni dan Sejarah Musik di Universitas Tokyo lalu lulus 6 tahun kemudian dengan mengambil tesis tentang komposer Arnold Schönberg. Ia kemudian pindah ke Jerman pada 1956 untuk melanjutkan studinya tentang Sejarah Musik di Universitas Munich dan bertemu dengan komposer avant-garde Jerman, Karlheinz Stockhausen lalu belajar tentang Komposisi di Freiburg Conservatory. Dua tahun kemudian ia bertemu dengan komposer avant-garde lainnya asal Amerika, John Cage dan bekerja di Studio für Elektronische Musik di WDR, Cologne hingga 1963. Paik juga bertemu dengan seniman konseptual Joseph Beuys, dan Wolf Vostell yang menginspirasinya untuk berkarya dalam ranah seni elektronik.

Good Morning, Mr. Orwell (1984} di UBU

Last Updated on Wednesday, 10 March 2010 21:34
Read more...
 
Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film PDF Print E-mail
Chronicles
Written by Kwee Tek Hoay diselaraskan oleh Biro Penelitian Pengembangan Forum Lenteng   
Wednesday, 03 March 2010 14:47

(available only in Bahasa Indonesia)

 

Pengantar

 

Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli, Benih Merdeka, Sinar Merdeka, Bintang Hindia, Bintang Timur, Sinar Pasundan, surat kabar berbahasa Belanda Het Dagblad, Waspada, dan majalah Postaha. Novel ini diterbitkan oleh Uitgevers Mij. Bintang Hindia tahun 1924. Filem ini diproduksi menjadi dua bagian dalam satu tahun (1930). Kedua-duanya disutradarai oleh Lie Tek Swie, sutradara  yang sebelumnya bekerja di kantor distribusi filem. Ia juga telah menyutradarai Njai Dasima (1929), Si Ronda (1930), Ikan Doejoeng dan Siti Noerbaja (1941). Ia salah satu sutradara pertama yang muncul dari perusahaan Tan’s filem Company, sedang filem Melati van Agam merupakan filem produksi kedua perusahaan itu setelah Njai Dasima (1929).

Kritik filem Indonesia paska kemunculan Loetoeng Kasaroeng tahun 1926 yang disutradarai L. Heuveldorp hingga masuknya Jepang di tahun 1942 sangat sedikit sekali dibanding publikasi di media massa dalam bentuk poster dan pamflet, atau sinopsis dan reportase pemutaran di bioskop. Dari sekian banyak media massa yang terbit masa itu, rubrik Pemandangan filem (Kritik filem) di majalah Panorama yang terbit tiga kali sebulan merupakan salah satu media yang selalu mengupayakan adanya kritik filem Indonesia. Majalah Panorama yang mulai terbit 1926 dan dikelola oleh Kwee Tek Hoay merupakan majalah yang juga memuat persoalan kebudayaan seperti teater, sastra, dan politik.

Jurnal Footage menampilkan kembali bagaimana kritik filem hidup di periode awal produksi filem di Indonesia. Dengan mengadaptasinya ke EYD (Ejaan Yang Disesuaikan) namun tetap menampilkan istilah-istilah Belanda dan bahasa Batavia yang banyak dipakai dalam tulisan ini sebagai pertimbangan sejarah. Seperti nama lokasi, kiasan, atau jabatan kerja di masa-masa penjajahan Belanda. Dua kritik filem ini dimuat dalam rubrik Pemandangan filem majalah Panorama edisi no. 182, Tahun ke 4, 20 Agustus 1930, hal 27 dan 28, dan edisi no. 198, Tahun ke 5, 30 Januari 1931, hal 25 – 28. Selisih enam bulan sejak kemunculan edisi pertamanya.

Kritik filem yang ditulis oleh Kwee Tek Hoay sangat obyektif. Ia membahas sebuah filem tidak hanya dari pelaporan tanggapan masyarakat akan filem itu, tetapi juga membahasnya dari cara pandang estetika sinema; logika gambar, dramaturgi, bahasa pencitraan dan pemeranan, hingga teknik pengambilan gambar. Dalam kritik Melati van Agam, ditulis "Itu perlombaan kuda di Fort de Kock bukan sebagai penambah, hanya ada jadi salah satu bagian dari itu cerita, karena di waktu ada itu perlombaan, di atas tribun, Idroes pertama kali bertemu pada Norma. Lebih jauh ada dilukiskan pekerjaan di parit arang batu di Sawah Lunto, dimana Idrus, sebagai murid dari sekolah Mijnbouw, ada turut bekerja buat dapat practisch. Dengan tegas dilukiskan keluar dan masuknya lori-lori elektrik ke dalam lubang-lubang parit bagaimana itu arang batu diangkut, dipindahkan dan lain-lain sebagainya, yang semua ada berharga buat orang yang hendak luaskan pemandangan dan pengetahuan." Tulisan ini mengingatkan pada kaidah Neorealisme Italia. Cara pengambilan gambar di lapangan terbuka dan memasukkan peristiwa latar sosial sebenarnya ke dalam bingkai filem.


Read more...
 
“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal PDF Print E-mail
Profile
Written by Hafiz   
Friday, 19 February 2010 14:46

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual work. Can we still cling to this definition upon reviewing Rafaël Rozendaal’s No Disc (2006)?

nodiscnodisc2nodisc3

No Disc

Last Updated on Wednesday, 10 March 2010 21:35
Read more...
 
Tepian Sungai Ciujung: Ethical Strategy in Narrative and Interview Method (Part two of three) PDF Print E-mail
Articles
Written by Akbar Yumni   
Tuesday, 16 February 2010 17:20

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the second part of the articles.


The mind is yet to be free if the medium is not liberating. It’s probably in line with Franz Fanon’s statement that technology, ideally, liberates the mind, not the opposite. The birth of the video is the main development in recording medium technology with high accessibility for all layers of society. As a tool of expression, video brings about a wide array of visual possibilities other than the traditional, procedural techniques inherent in film and television. Its high accessibility nullifies rigid procedures of recording. As a narrative method, video, in essence, provides spacious freedom for its users.

Accessibility in video recording facilitates its users to new ways of narrating. To the very least, visual language of the video may serve as subculture or even counter culture to the visual culture of film and television. Hence, participation in what we often refer as ‘visual democratization’ in the video era will eventually swing further away from visual homogeneity. What was yet to be optimized from this presence of video technology is how this egalitarian recording medium may be used as a part of visual culture strategy, especially as strategies to new ways of narrating, as a response to the void history presented in grand narratives which often take a gapping distance from society’s awareness.

tepian-sungai-ciujung-2f

(we're sorry for the incovenience, the video of "Tepian Sungai Ciujung" temporarily unavailable because there some problem of our system)

 

Tepian Sungai Ciujung (The Banks of River Ciujung) is one of the videos that celebrate visual democratization through its visual language. The importance of visual language is determined by its ideology of narration that grounds the visual language. The housewives’ tales upon laundering their dirty clothes by the riverbank are diachronic of a piece of history of modern days’ waterway civilization. The history of communal civilization that commonly clusters the sites of traditional customs has remained along the riverside and manifests in the activity of public laundering. Latrines by the river function as public toilets and laundering area naturally becomes a place for housewives to socialize in a communal zest. The river, which is no longer a center of civilization in Rangkasbitung, leaves off a role of marginal economy that survives, full of stories accumulating the society’s restlessness, be it about petty household issues to a rumor of condemnation to their current riverside residence.

Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 1 of 17
poposby

KAOS FOOTAGE
(Footage)

footagetext-front

RP 85.000 | US$ 10
Without Shipping

Today.Quotation_:

 

"If talking film is an art, speech must play a role in conformity with its character as a sign and not appear only as a sound element, which, though privileged as compared with others, is but of secondary importance as compared with the visual element."

[Éric Rohmer]

ok video Rio sadja akumassa jurnal footage fan page tweet us

Stats_!

Members : 179
Content : 138
Content View Hits : 81312

Online_!

We have 16 guests online

More.Articles_!

Elida Tamalagi

Tuesday, 12 August 2008

Negotiate The Discourse of Audio Visual at The Alternative Bioscope   Public demand on alternative bioscopes are numerous. Unfortunately, this huge... Read more...

Fritz Lang and The German Expressionism

Thursday, 12 June 2008

Fritz Lang is regarded as one of the main directors in the early history of film. As a representative of expressionism in the 1920’s, he has made... Read more...

Tepian Sungai Ciujung: Awareness of Medium Ideology and Integration Beyond The Lenses

Friday, 05 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the first part of... Read more...

WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia

Monday, 08 June 2009

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah... Read more...

Aminuddin TH Siregar: We Excel Other Countries in Southeast Asia

Monday, 03 August 2009

Why do you pick the theme ‘Comedy’ for the fourth OK. Video?We believe the theme comedy correlates to the socio-political state our country is... Read more...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial

Friday, 12 June 2009

(temporarily, only available in Bahasa Indonesia) Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas... Read more...

Tepian Sungai Ciujung: Ethical Strategy in Narrative and Interview Method (Part two of three)

Tuesday, 16 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the second part of... Read more...

Perbincangan dengan Budi Darma

Tuesday, 14 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi... Read more...

Transmission Asia Pacific 2008

Thursday, 12 June 2008

The camping ground was taste very humid. Every afternoon and night, rain just won’t stop dropping. But the end of May approaching, the month that... Read more...

ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta

Monday, 13 July 2009

(Only available in Bahasa Indonesia) Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini... Read more...

Reading Michael Haneke’s Code Unknown

Friday, 03 October 2008

Michael Haneke is probably the most interesting director in the contemporary cinema history. Born in Munich, 1942, Haneke grew in suburb Austria,... Read more...

Yang Muda yang Bercinta: Early Montage in New Order Regime

Wednesday, 07 October 2009

A young man rides in a bajaj with his pregnant lover, passing through Jakarta’s slums in the 1970s. Child beggars in the city’s labyrinths become... Read more...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director

Tuesday, 19 May 2009

Sergei Eisenstein is arguably the most important single figure in the history of movies. He was certainly the most versatile. The director of the... Read more...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga

Thursday, 19 November 2009

(available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang... Read more...

Video: The New Wave

Thursday, 31 December 2009

Tracing the Genealogy of World’s Video Art The development of Indonesian video art in the last decade has been satisfactory. Several visual art... Read more...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
var01
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net