I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Kaos.Footage_!

banner-akumassa

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto



Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)* PDF Cetak E-mail
Artikel
Ditulis oleh Ronny Agustinus   
Kamis, 29 Juli 2010 11:43

PENDAHULUAN

Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa menerimanya… namun lantas, tak pelak lagi imaji-imaji mulai bermunculan merongrong saya, gambaran-gambaran konkret tentang apa yang mereka perbuat (ngapain sih pacar saya harus menjilatinya tepat di situ? Ngapain sih dia harus mengangkang selebar itu?) Saya pun lupa diri, keringatan dan gemetar, rasa tenang lenyap selamanya dari diri saya. Sampar fantasi macam ini, yang disebutkan oleh pemikir Renaissance Fransiskus Petrarchus dalam bukunya Secretum (Buku Rahasia Saya) sebagai gambaran-gambaran yang mengaburkan penalaran jernih seseorang, dihadirkan secara ekstrem oleh media audiovisual zaman sekarang. Di antara benturan-benturan antagonistik yang mewarnai zaman kita (globalisasi pasar dunia versus penegasan partikularisme etnis, dsb.), barangkali tempat pokoknya terletak pada antagonisme antara abstraksi yang kian lama kian menentukan hidup kita (dalam selubung digitalisasi, relasi pasar spekulatif, dll.) dengan banjirnya imaji-imaji pseudo-konkret. Di masa kejayaan Ideologiekritik tradisional, prosedur kritis paradigmatisnya adalah menarik diri dari gagasan-gagasan “abstrak” (religius, hukum, …) menuju realitas sosial konkret tempat gagasan-gagasan tersebut berakar. Di zaman ini, kian lama kian tampak bahwa prosedur kritis itu dipaksa untuk mengikuti jalur sebaliknya, dari imaji pseudo-konkret menuju proses-proses abstrak (digital, pasar…) yang secara efektif membentuk struktur pengalaman hidup kita.

Buku ini melakukan pendekatan sistematis, dari sudut pandang Lacanian, atas praanggapan-praanggapan tentang “sampar fantasi” ini. Bab pertama (“Tujuh Tabir Fantasi”) mengelaborasi kontur gagasan psikoanalitis tentang fantasi, dengan penekanan khusus tentang bagaimana ideologi harus menyandarkan dirinya pada latar fantasmik tertentu.

[…]

image

Terakhir Diperbaharui: Kamis, 29 Juli 2010 12:17
Selanjutnya...
 
Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia PDF Cetak E-mail
Kronik
Ditulis oleh B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Rabu, 28 Juli 2010 14:15

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955

 

(Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)

Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926) buatan Vsevolod Pudovkin, Bed and Sofa (Ranjang dan Dipan, 1927) buah tangan Abram Room, Earth (Tanah, 1930) ciptaan Alexander Dovzhenko membuat semua kritikus bungkam. Tetapi tak lama kemudian melenyap kata-kata pujian seperti jarang terdengar dalam sejarah filem. Akhirnya dapat diketahui seperti yang sudah lama diduga, yakni penyelesaian akhir teori-teori filem: 'seni-filem itu di samping seni-gerak pertama-tama adalah MONTASE'.

D.W. Griffith kembali diangkat oleh orang-orang Rusia. Si jago tua Amerika yang hampir dilupakan dan diabaikan orang-orang Eropa. Orang-orang Rusia ini dengan sadar melanjutkan apa yang dahulu dikerjakan Griffith dengan intuitif dalam percobaannya, montase. Dahulu untuk pertama kalinya diperlihatkan Fritz Lang dalam Der Spieler Dr. Mabuse (1922) melalui rangkai berlanjut irama dan montase citra kini dilontarkan Eisenstein dalam satu montase citra yang indah dan melodis pada filem The Battleship Potemkin. Adegan pelabuhannya yang termasyhur itu, langkah parade prajurit-prajurit Kozak dengan perlahan mengusir masyarakat dari tangga perlabuhan Odessa. Ketika Eisenstein menyuruh prajurit-prajurit melepaskan tembakan ke arah orang banyak, maka pengadeganan dipotongnya menjadi beberapa episode, dimunculkan beberapa sudut pandang kamera, dengan kata lain: montase telah menciptakan suatu kenyataan filem baru. Kenyataan dimana prajurit-prajurit Kozak dengan sepatu setiwalnya datang bertambah dekat, diikuti logis dengan adegan seorang ibu yang tertembak terhuyung-huyung dibelakang kereta bayi. Kenyataan kereta bayi yang meluncur ke bawah melalui tangga, telah cukup menggemparkan tragis kejadian yang hebat dalam satu detik. Seperti tak akan terdapat dalam buku-buku, maupun dalam sandiwara atau dalam kenyataan. Kalau kemudian dalam filem itu diduga, Eisenstein dapat menciptakan unsur-unsur kegentingan sekeliling kapal pemberontak yang diancam eskader [satuan kelompok kecil dalam kapal perang] kerajaan itu menjadi lebih hebat dengan merentetkan citra-citra, maka ia telah membuktikan bahwa montase adalah logika dari analisa filem, sehingga beberapa sensasi dapat didorongkan dengan beberapa asosiasi.

BattleshipPotemkin

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 28 Juli 2010 15:08
Selanjutnya...
 
Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng PDF Cetak E-mail
Artikel
Ditulis oleh jurnalfootage   
Rabu, 14 Juli 2010 00:35

7thforlen-footage



Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng

* * *
 
Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos PDF Cetak E-mail
Artikel
Ditulis oleh Birgitta Steene   
Sabtu, 03 Juli 2010 23:44

Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump (Pippi Longstocking) oleh Astrid Lindgren. Satunya lagi adalah kemunculan filem Hets (Murung), naskahnya oleh Ingmar Bergman, pada saat itu sutradara teater amatir di Kota Tua Stockholm.

Cerita anak-anak Lindgren berkisah tentang seorang gadis rambut merah berkuatan luar biasa yang membuat rendah seluruh selera tinggi sosial dan naskah filem Bergman mengenai seorang bocah sekolahan yang tersiksa oleh guru bahasa Latinnya yang sadis menyebabkan perdebatan sengit di media Swedia. Apa yang ditentang adalah, sejatinya, landasan kultur tradisional homogen, yang diatur oleh struktur keluarga patriarkis, gereja negara (yang juga merupakan pelayan sipil), sistem sekolah hirarkis terpisahkan oleh kelas [sosial] yang dibangun di atas disiplin ketat, dan secara khusus, kemapanan birokrasi.

384px-Pippi_Longstocking_book_cover

Tigapuluh tahun kemudian, baik Astrid Lindgren dan Ingmar Bergman berkontribusi dalam cara yang berbeda pada kejatuhan pemerintahan sosial-demokratik yang sudah berkuasa sejak akhir perang dunia kedua. Selama mandat politiknya, Swedia menjadi model negara kesejahteraan. Sistem sekolah otoriter dibongkar; kebudayaan baru generasi muda mendapat landasan yang berani menentang kewenangan orang tua.

Swedia telah menjadi salah satu masyarakat paling sekular di dunia, dan gereja Lutheran purba, yang etosnya sudah menyediakan tulangpunggung moral dan religius di negeri itu selama berabad-abad, kini direduksi hanya sekadar pelayanan ritual penduduk pada acara pembaptisan, pernikahan dan pemakaman. Bagi Ingmar Bergman, putra seorang pendeta Lutheran yang juga membuka kapel pribadi bagi raja dan ratu Swedia, perubahan sosial dan politik yang dialami negeri itu sudah sangat tidak lagi fundamental.

760px-Lindgren_1960

Terakhir Diperbaharui: Minggu, 04 Juli 2010 23:02
Selanjutnya...
 
Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010 PDF Cetak E-mail
Artikel
Ditulis oleh Akbar Yumni   
Jumat, 25 Juni 2010 13:11

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)

Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari terakhir, dan setelah menyaksikan karya-karya yang difestivalkan, pertanyaan tersebut masih sulit dijawab. Menyandingkan Mafvie dengan festival filem lainnya menjadi relevan, mengingat bahwa perhelatan para pembuat filem pendek ini adalah sebuah peristiwa kebudayaan. Tentu ini adalah hal yang strategis, apalagi festival-festival ini berlangsung di daerah “pusat” (Jakarta). Harapannya tentu besar. Apalagi dengan trauma sentralisasi kebudayaan pasca Orde Baru masih melekat sampai hari ini. Melihat festival filem seperti Mafvie yang berlangsung di Malang, dalam semangat otonomi daerah, tentu ada keinginan untuk dapat melihat semangat estetika baru yang lahir dari karya-karya filem yang dihadirkan pada festival ini.

mafvie-poster

Mafvie adalah festival filem dan video yang diadakan oleh lembaga ekstra kampus di Universitas Muhammadiah Malang (UMM), Kine Klub UMM. Mavfie VI kali ini mengambil tema ‘Kembali ke Indonesia’. Menghadirkan 47 film kompetisi, 7 film non kompetisi dan 2 film tamu. Juga ada program yang melibatkan beberapa lembaga yang selama ini bekerja di video komunitas seperti Kampung Halaman Yogyakarta, Komunitasfilm.org, Boemboe.org, dan diskusi forum komunitas bersama komunitas-komunitas film berbasis kampus. Dalam festival ini ada juga program presentasi spesial seperti Paul Agusta dengan filem At The Very Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya), Proyek Payung dengan Antalogi 9808 (Antology of 10 Indonesian Reform) dan penampilan beberapa karya Lucky Kuswadi Lucky Kuswandi bersama Kalyana Shira Films. Program lainnya adalah diskusi filem dokumenter bersama Gerzon R.Ayawalia (Institut Kesenian Jakarta).

Terakhir Diperbaharui: Jumat, 25 Juni 2010 14:23
Selanjutnya...
 
Mimikri Atas Mimikri: Catatan Festival Film Purbalingga IV 2010 PDF Cetak E-mail
Artikel
Ditulis oleh Akbar Yumni   
Kamis, 03 Juni 2010 14:04

Menurut Teshome Gabriel periode pertama sinema dunia ketiga adalah filem Hollywood. Kedua, dengan “Mimikri” filem Hollywood, yakni mengidentifikasikan filem-filem dengan filem Holywood. Mimikri bisa kita lihat pada awal produksi sinema di Hindia Belanda seperti; Si Tjonat (1929), Rampok Preanger (1929), Si Pitoeng (1931). Hal ini masih berlaku hingga saat ini. Lalu, apa sebutan untuk produksi filem yang berperilaku mimikri terhadap filem nasional? Fenomena ini yang muncul pada perhelatan Festival Film Purbalingga IV, pada 26-30 Mei 2010 lalu di Purbalingga. Programer festival, Dimas Jayasrana dalam pengantarnya menyatakan bahwa televisi tampaknya masih (harus) menjadi musuh bersama (dan utama). Dari sekian karya fiksi dan dokumenter yang masuk, terlihat bagaimana logika tayangan televisi mendominasi cara berpikir para pembuatnya. Berpikir yang fatalistik, instan, serta penyederhanaan persoalan tanpa runut logika yang matang. Artinya, ungkapan oleh programer festival tersebut menandakan ada semacam perilaku “mimikri” terhadap televisi.

Festival Film Purbalingga IV merupakan festival filem yang menampilkan karya-karya produksi filem di daerah Purbalingga, dan Banyumas Raya (Cilacap, Bobotsari, Purwokerto). Festival tahunan ini memang diorentasikan bagi kalangan anak SMA, yang merupakan basis konsituen pembuat filem yang di wilayah Purbalingga dan Banyumas Raya. Pada perhelatan ke 4 ini menghasilkan 19 filem pendek fiksi, 12 filem pendek dokumenter.

suasana-di-lokasi-festival

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 28 Juli 2010 11:39
Selanjutnya...
 
« MulaiSebelumnya12345678910BerikutnyaAkhir »

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 420
Konten : 145
Jumlah Kunjungan Konten : 136889

Sedang.Online_!

Kami memiliki 12 Tamu online

Artikel.Lain_!

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Jumat, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Menyibak Rahasia Video
Selasa, 12 Januari 2010

Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta alat perekamnya dan mainan elektronik, seperti...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Jumat, 24 Oktober 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Elida Tamalagi: Tawar Menawar Wacana Di Bioskop Alternatif
Selasa, 12 Agustus 2008

Kebutuhan publik akan bioskop alternatif terbilang sangat besar. Sayangnya, kebutuhan besar ini tidak didukung oleh kesiapan calon pengelola bioskop. Kegiatan memutar filem di bioskop-bioskop semacam ini masih dipandang sebagai ‘kegiatan asal...

Kenyataan Keseharian dalam Ladri di Biciclette
Kamis, 28 Agustus 2008

Pertanyaan-PertanyaanMalam ini adalah diam kesekian saya terhadap satu filem neorealisme Italia, Ladri di Biciclette (1948) yang dibuat oleh Vittorio de Sica dari naskah Cesare Zavattini. Saya tertegun dengan kepercayaan saya terhadap apa yang...

Tabu: Representasi Masyarakat Pribumi Polinesia
Kamis, 31 Desember 2009

Matahi, seorang laki-laki pribumi di sebuah pulau Pasifik Selatan bernama Bora-bora, jatuh cinta kepada gadis pribumi bernama Reri. Suatu hari, Hitu, seorang pemuka suku yang diutus oleh pemimpin seluruh pulau, datang untuk membawa Reri sebagai...

Prelinger Archives: Arsip Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 03 Desember 2009

"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Kamis, 03 September 2009

Dikompilasi oleh Jurnal Footage Kami tersentak mendengar kabar tentang pembunuhan tragis salah satu kritikus filem terbaik di Asia Tenggara, Alexis A. Tioseco. Dia begitu muda. Begitu penuh gairah. Bila sedang membincangkan filem, dia dapat dengan...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Kamis, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Ariani darmawan: Bioskop Independen sebagai Perlawanan
Selasa, 12 Agustus 2008

Bioskop independen hadir sebagai bentuk perlawanan dari bioskop-bioskop kebanyakan. Tapi apa sebenarnya yang dilawan? Mungkin saja tidak ada yang dilawan, sebab membicarakan perlawanan dalam filem-filem yang sering disebut independen di Indonesia...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Senin, 06 Juli 2009

(Sementara tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Senin, 26 Januari 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Katalog Massroom Project
Jumat, 03 Juli 2009

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

Maklumat Filem Bersuara
Senin, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Agama, Politik, dan Pemiskinan Sosial Sistematis Dalam Filem Los Olvidados
Selasa, 16 Desember 2008

Los Olvidados merupakan sebuah karya dari salah satu tokoh gerakan surealisme dunia, Luis Bunuel. Lahir di Spanyol, 22 Februari 1900 dan tumbuh dewasa di Meksiko, Bunuel menyelesaikan Los Olvidados pada 1950. Filem ini menjadi salah satu karya...

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Kamis, 29 Juli 2010

PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

Yang Muda yang Bercinta: Montase Awal di Masa Rezim Orde Baru
Rabu, 07 Oktober 2009

Seorang pemuda menumpang angkutan bajaj dengan kekasihnya yang sedang mengandung, melewati kawasan kumuh Jakarta di era 1970an. Anak-anak jalanan di lorong-lorong kota menjadi rangkaian sintagmatik bajaj. Pemuda tersebut adalah seorang mahasiswa...

Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan
Jumat, 10 Juli 2009

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu? Guy: Kali pertama kami...

Dominasi Produksi Visual Video
Selasa, 18 Agustus 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 Pernyataan dua penulis budaya visual di atas tampaknya mampu...

Arkeologi Seni Media
Sabtu, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

Lisabona Rahman: Nonton Gratis Filem Berbobot Setiap Hari
Selasa, 12 Agustus 2008

Terkadang bosan melihat filem-filem yang disajikan bioskop-bioskop kebanyakan. Sebagian besar disebabkan ceritanya yang itu-itu saja. Para pemainnya juga sama. Menghadapi kondisi ini, kehadiran sebuah bioskop alternatif menjadi penting karena...

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Jumat, 12 Juni 2009

(tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Transmission Asia Pacific 2008
Kamis, 12 Juni 2008

Bumi perkemahan itu terasa sangat dingin. Setiap sore atau malam hari, hujan menderas tak henti-henti. Padahal akhir bulan Mei menjelang, bulan yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Kadang, serombongan kelelawar pun beterbangan. Satu atau...

Tarzan ke Kota dengan Cacat Logika Bawaan
Rabu, 17 Desember 2008

Filem berjudul Tarzan ke Kota dicap sebagai ulang-buat filem Tarzan Kota yang dibintangi aktor legendaris Indonesia, Benyamin Sueb dan disutradarai oleh L. Sudjio. Meski terdengar sama, Tarzan ke Kota merupakan filem yang dipertontonkan pertama kali...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Membaca Isyarat Tak Terpahami Michael Haneke
Jumat, 03 Oktober 2008

Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07

Jaringan.Footage_!

logo-ana

logo-forumlenteng

logo-akumassa

logo-ruru

logo-okvideo

logo-karbon

logo-ctheory

logo-opendemocracy

logo-praxis

logo-komunitasfilm

logo-kineforum

copyleft.2009.jurnalfootage.net