I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Rabu, 20 Januari 2010 03:40

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)

Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang tampak di layar putih pada hakekatnya adalah kenyataan citra yang dialami yang menjadi dunianya sendiri. Keadaan yang dibentuk oleh pertalian ruang dan waktu dan ruang.

Jadi citra-citra pada filem mutlak bukan gambar-gambar kenyataan, tetapi mempunyai hidupnya sendiri yang kongkrit. Kamera tidak melekatkan bentuk-bentuk luar, tetapi mencerminkan kesadaran. Bukan benda-benda sendiri, tetapi bagaimana benda-benda itu menjelma di dalam jiwa! Filem yang mutlak memperlihatkan dunia rohani kepada penonton dimana hanya ada undang-undang asosiasi yang berlaku. Maka citra-citra pun menjadi tidak logis, tetapi memiliki hubungan satu dengan lainnya dalam psikologis.

La Fete Espagnole (1920)

La Fete Espagnole (1920)

Maka dalam filem mutlak itu dapat mempertunjukkan benda-benda yang kongkrit, fitri, atau pertunjukan dalam pengertian-pengertian niskala seperti yang telah dibuktikan Ruttmann. Filem mutlak tak perlu menjadi filem niskala. Sebaliknya filem niskala senantiasa mutlak. Filem itu selalu musik-optis yang tidak memperlihatkan sesuatu, tetapi musik itu sendiri adalah sebuah pertunjukan materi.

Dapatlah dimengerti, mengapa seniman-seniman Prancis yang menaruh perhatian pada hal itu dapat menambah seni gerak yang harmonis avantgarde Jerman dengan irama yang lebih liris. Hal itu sesuai dengan jiwanya. Yang disesalkan ialah cara mereka yang mengurung ini. Sebaliknya, tak dapat diharapkan sebuah seni dari “bohemian-bohemian” avantgarde Paris yang kosmopolitis itu. Sebab avantgarde ini adalah suatu reaksi yang justru menentang pergaulan yang terlalu umum dalam dunia filem. Seperti yang diperlihatkan di Prancis di tahun-tahun sebelum 1920. Berbeda dengan di Jerman, orang-orang di Prancis tak lagi menaruh harapan pada filem. Terutama setelah gagalnya percobaan Film d’Art. Filem pun menjadi sebuah hiburan rakyat yang terkadang sentimental, tapi kadang-kadang juga realistis. Seperti juga di Prancis, Inggris pada masa itu tidak dapat mencipta dan hanya sanggup mempertunjukkan popularitas Betty Balfour yang murah sebagai Squibs, gadis penjual kembang.

Pernyataan bahwa filem Prancis itu mudah telah disepakati bersama, namun dapatlah dimengerti jika timbul reaksi dari beberapa kalangan tertentu atas keadaan yang seragam dan tidak berjiwa ini. Pelukis dadaisme dan surealisme pun dengan sibuk menkonstruksi dasar-dasar sinematografi yang mereka wujudkan dalam percobaan-percobaan dimana citra-citra mendorong mereka ke arah keadaan-keadaan yang berirama. Pemikiran-pemikiran asali berdampingan dengan keaslian tehnik. Sudah tentu mereka juga mengadakan percobaan untuk kepentingan percobaan-percobaan itu sendiri, tetapi sering kali mereka mengadakan percobaan itu hanyalah sebatas ambisi snobisme dan jarang karena kehendak mencipta. Kita bebas menafsirkan hal ini dan bebas pula menertawakan apa yang kita kehendaki (yang memang beralasan), tetapi sudah pasti bahwa avantgarde Prancis adalah dapur percobaan seni filem. Barangkali ini suatu makbal yang terlalu luar biasa, dimana dengan teliti dan menurut ilmu pengetahuan diselidiki pergeseran dan pemaduan, pertentangan dan perselisihan dalam dunia khayalan, yang juga turut menentukan isi artistik seni filem.

Louis Delluc

Louis Delluc

Rien que les heures (1925)

Rien que les heures (1925)

Avantgarde filem dibangun oleh seorang wartawan Prancis, Louis Delluc, di tahun 1920 bersama beberapa temannya menguraikan adanya pertalian antara filem dengan musik melalui tulisan-tulisan pada majalah dan filem-filem produksi mereka. Berlandaskan hal itu, mereka kemudian menggugat yang biasa disebut “mata kamera yang surealistis”. Aspek baru dalam filem pun muncul setelah pencipta-pencipta filem Jerman melakukan perbandingan mereka yang indah itu. Sebagai kelanjutan dari gerak yang harmonis yang telah diperoleh Walter Ruttmann, surealis-surealis Prancis membuat psychis dari citra-citra filem yang memiliki hubungan psikologis antara satu dengan lainnya yang membentuk isi cerita, disebut filem-filem kamera. Karena itu kenyataan-kenyataan di luar filem menjadi kurang hubungannya karena lebih banyak memperlihatkan estetika filem dari keanehan citra-citranya. Sensasi hebat yang ditimbulkannya ialah bahwa penonton tidak melihat citra kejadian-kejadian lagi, tetapi melihat gambar-gambar saja sudah menjadi sebuah peristiwa.

Marcel Herbier

Marcel l’Herbier

 

Germaine Dulac "L'invitation au voyage" (1927)


Setelah di tahun 1920 wartawan pujangga Louis Delluc beserta Germaine Dulac mencipta filem La fete espagnole dunia pun berhadapan dengan korelasi musik sehingga penonton merasa dialamkan irama yang tersembunyi di dalamnya. Inilah sebabnyak kritikus-kritikus bisa menulis tentang une orchestration d’images dan une symphonie visuelle. Dari tangan Louis Delluc lahir filem lain Fievre, tetapi sayang ia meninggal di tahun 1923. Kalau tidak, dalam dunia seni filem Prancis tentu ia akan menjadi seorang seperti Walter Ruttmann dalam seni filem internasional. Langkah Delluc diikuti oleh arsitek Brazil, Alberto de Cavalcanti dan Jean Epstein. Dalam tahun 1925 Cavalcanti mencipta filem Rien que les heures yang mengharukan itu. Suatu lirik visual yang menggambarkan kehidupan Paris sehari-hari. Filem ini dapat dipandang sebagai imbangan yang romantis dari filem Walter Ruttmann, Symvonie einer Groszstadt. Selain orang-orang avantgarde itu, ada pula Jean Epstein, Marcel l’Herbier yang membuat filem. Baik Epstein maupun l’Herbier berusaha dengan cara Prancis untuk mendapatkan citra-citra indah di layar putih. Isi citra itu bercorak sastra dan terpaksa oleh rupa-rupa kebenaran. Dengan ini mereka menemui tehnik tutur baru, gaya foto yang lebih rapih tetapi menyimpang dari tujuan seni filem avantgarde angkatan pertama. Orang sesalkan Marcel l’Herbier tidak mempunyai kesanggupan beradaptasi dengan hakiki seni filem, yakni gerak. Ilhamnya senantiasa membutuhkan gerak daripada mencipta gerak filem. Kelak l’Herbier bulat-bulat jatuh ditangan industri filem dan untuk perusahaan itu ia buat banyak filem dan filem-filem sandiwara yang tidak seberapa mutunya.

Marcel l’Herbier "El Dorado" (1921)

Tokoh yang menempuh jalan sendiri adalah Abel Gance, juga disebut Fritz Lang Prancis, yang sanggup membuat retorik hebat. Dalam ciptaan-ciptaannya tampak cita rasa terhadap visualitas, pendewaan gaya bentuk, dan senantiasa mendorongnya ke suatu keadaan dimana seni filem tidak lagi membutuhkan Abel Gance. Api jenius seniman itu menjadi padam karena kebanyakan fantasi dan karena pendapat-pendapat tehnik yang tidak mengenal kekangan yang dengan secara palsu mendeklarasikan diri sebagai puisi filem. Yang konsisten dalam avantgarde ialah Claude Autant-Lara, pencipta filem Faits divers yang aneh itu. Ciptaan ini sangat kontras dengan ciptaan orang Paris Amerika, Man Ray, yang tetap tinggal sebagai seorang pengikut aliran absolutisme dan tetap meletakkan titik beratnya pada citranya sendiri. Pengikut lain dari aliran absolutisme ini adalah Leger dan Eugene Deslaw.

Fait Driver

Fait Driver

Kira-kira di tahun 1928 dipertunjukkan 2 filem ciptaan Germaine Dulac yang sangat khas bagi avantgarde Prancis, Invitation au voyage dan La coquille et le clergyman. Kedua filem ini adalah contoh-contoh tegas dari rangkaian citra yang tidak logis dan juga contoh-contoh dari psikologi visual. Germaine Dulac mempunyai cukup perasaan untuk membimbing gaya pahamnya. Keyakinan terhadap asosiasi visual telah cukup baginya. Demikian keadaan filem avantgarde bahwa kita harus melihatnya lebih dahulu agar dapat mengerti tiap rumusnya. Bahwa banyak juga dicipta avantgarde Prancis yang tak dapat dirumus dan tetap menyerupakan sesuatu yang juga tak dapat diuraikan sampai hari ini. Terbukti umpamanya dari filem yang kini –justru karena itu– masih sering dapat dilihat dalam pertunjukan-pertunjukan istimewa, Un Chien Andalou ciptaan Luis Bunuel. Tetapi kita mesti hati-hati kalau-kalau pertunjukan filem yang “tak dapat diterjemahkan itu” akan membuat para penonton tertawa yang bisa berarti suatu olokan terhadap avantgarde terlebih-lebih karena avantgarde sangat mudah disamakan dengan snobisme. Ada baiknya kalau orang berusaha melakukan percobaan-percobaan dengan filem dengan membongkar rahasia-rahasia seni muda itu. Telah terbukti bahwa yang berharga dalam usaha-usaha avantgarde kelak dapat menjadi milik bersama dalam industri filem. Sebab avantgardisme, pemberian bentuk filem-filem, kini tidak lagi merupakan keheranan bagi penonton. Penonton lebih banyak melihat avantgarde daripada yang pernah diketahui dan disadarinya. Tak ada lagi yang membuat penonton heran. Avantgarde telah ditelan bulat-bulat oleh tehnik filem. Dan ini bukanlah maksud penciptaannya dahulu! Pencipta-pencipta yang sungguh-sungguh bekerja telah mencipta filem-filem yang indah dalam industri filem telah mereka buktikan bahwa mereka telah mendapatkan pelajaran dari capaian avantgarde. Rata-rata sutradara hanya menaruh perhatian terhadap keahlian avantgardis dalam pemakaian “true” dan mereka bergegas mempelajarinya. Hasilnya, penonton modern terbiasa dengan cara kerja avantgarde, walaupun hanya dengan alat-alatnya saja dan tak pernah atau jarang dengan jiwanya.

 

Germaine Dulac "La coquille et le clergyman" (1926)


Marcel l’Herbier "El Dorado" (1921)

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 20 Januari 2010 18:26
 
More articles :

» Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955 (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

» Riri Riza: Yang Utama adalah Industri Filem!

Tidak adanya kebijakan kebudayaan yang jelas, sering menjadi bahan “protes” oleh para aktivis kebudayaan di Indonesia. Lebih dari 60 tahun negara ini merdeka, perdebatan tentang arah kebudayaan Indonesia modern terus menjadi pembicaraan. Namun,...

» Farah Wardani: Ini Situs Arsip Seni Rupa Pertama di Indonesia

Pada 19 Agustus 2009, Indonesia Visual Art Archive meluncurkan situs arsip seni rupa pertama di Indonesia. Namanya iclick.IVAA. Pada kesempatan itu, Jurnal Footage mewawancarai Farah Wardani, Direktur Eksekutif IVAA. Berikut hasil wawancara...

» Seni Video di New York: Sebuah Catatan Pengalaman

Di tengah bulan November (2009) yang dingin, saya berjalan menuju gedung Japan Society di tengah kota Manhattan, New York. Malam itu, Japan Foundation menjadi salah satu tuan rumah Performa Biennale, satu biennale seni performans terbesar di kota...

» Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu?Guy: Kali pertama kami didekati...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158863

Artikel.Lain_!

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Kamis, 15 Januari 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Rabu, 20 Januari 2010

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Jumat, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Filem! Apa itu? Komunitas Filem.
Kamis, 01 April 2010

Komedi: Melepaskan Diri dari Kecemasan Sosial-Politik
Senin, 03 Agustus 2009

Pembukaan Ok.Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, pada 28 Juli 2009, dipadati pengunjung. Malam itu, Hafiz, Direktur Festival, bersama-sama dengan Tubagus “Andre” Sukmana (Direktur...

Chris Marker: Dalam Ingatan Teknologi Baru
Jumat, 12 Juni 2009

1. Ingatan KakuSaya ingat membicarakan filem cerita mutakhir Chris Marker, Level Five (1996), dengan seorang teman saat pertama kali filem itu keluar. Pada umumnya ia terkesan, tapi gundah oleh istilahnya sendiri: “pandangan seorang tua atas...

Dengan Ringan Melihat Sejarah Seni Rupa Dunia pada Video 70 Million
Rabu, 10 Maret 2010

Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah kebudayaannya terus berlaku hingga sekarang. Karena memang itulah hakekat sebuah kebudayaan yang selalu diinterpretasi ulang oleh generasi selanjutnya....

Ambivalensi Sikap Chaerul Umam
Rabu, 10 Maret 2010

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Rabu, 19 Mei 2010

Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak bermutunya Mel Gibson,...

Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas
Rabu, 27 Mei 2009

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir...

Idul Fitri 1431 H
Rabu, 08 September 2010

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H - - - 

Prima Rusdi: Satu Dekade Reformasi Bisa Percuma
Kamis, 12 Juni 2008

Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, Proyek Payung menggelar acara pemutaran sepuluh filem pendek dari sepuluh sutradara muda di Kineforum tanggal 12-20 Mei 2008. Sambutan penonton terbilang memuaskan. Apa dan kenapa Proyek Payung didirikan?...

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia
Senin, 08 Juni 2009

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah dulu. Waktu itu, dosen saya bercerita tentang perkembangan evolusi tubuh manusia yang sudah bisa...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng
Rabu, 14 Juli 2010

Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng * * * 

Tabu: Representasi Masyarakat Pribumi Polinesia
Kamis, 31 Desember 2009

Matahi, seorang laki-laki pribumi di sebuah pulau Pasifik Selatan bernama Bora-bora, jatuh cinta kepada gadis pribumi bernama Reri. Suatu hari, Hitu, seorang pemuka suku yang diutus oleh pemimpin seluruh pulau, datang untuk membawa Reri sebagai...

Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan
Jumat, 10 Juli 2009

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu? Guy: Kali pertama kami...

Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara
Selasa, 16 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut.   Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Senin, 06 Juli 2009

(Sementara tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Sabtu, 19 Desember 2009

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni...

Toshio Matsumoto (1932-)
Rabu, 12 Agustus 2009

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)
Rabu, 20 Januari 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Kamis, 16 Juli 2009

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...

Alex Sihar: Tantangan Membuat Bahasa Video Untuk Lebih Dikenal
Minggu, 23 Agustus 2009

Tahun 2009 ini, Yayasan Konfiden, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pengembangan, penyebarluasan pengetahuan dan pemanfaatan media audio visual bagi kepentingan pemberdayaan, peningkatan apresiasi dan dukungan atas inisiatif masyarakat kembali...

Sepuluh Sutradara Sepuluh Tahun Reformasi
Kamis, 12 Juni 2008

Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net