|
. . . Jurnal Footage, Bacalah . . .
|
Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia |
|
|
|
|
Ditulis oleh Andre Bazin
|
|
Jumat, 24 Oktober 2008 13:35 |
|
(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die Nibelungen, atau Greed [Fritz Lang]. Saya tunduk setulusnya pada pujian tinggi ini selama penyebutannya bersama ekspresionisme Jerman itu dipahami untuk merujuk tingkat kebesaran filem dan bukan sifat kedalaman estetik pembuatnya. Perbandingan yang lebih baik bisa pula diajukan bersama filem Potemkin di tahun 1925. Selebihnya, realisme filem-filem Italia masakini sudah seringkali dihadapkan dengan estetikisme Amerika dan sebagian, dengan hasil-hasil produksi Prancis. Bukankah sejak awal, filem-filem tersebut telah menemukan realisme yang mencirikan filem-filem Rusia-nya Eisenstein, Pudovkin, dan Dovsjenko sebagai karya revolusioner baik dalam seni maupun politik, atau sebaliknya, kepada estetikisme filem-filem Ekspresionis Jerman serta pengagungan terhadap Hollywood? Paisa, Sciusca, dan Roma Citta Aperta, seperti juga Potemkin, telah mengawali pertentangan berlarut-larut antara realisme dengan estetikisme di dalam filem. Namun sejarah takkan berulang; kita mesti menerangkan bentuk tertentu pertikaian estetik itu ditinjau pada saat ini, sebuah jalan-keluar tempat neorealisme Italia berutang kejayaan di tahun 1947.
Para Perintis Berseberangan dengan hasil karya yang sangat Italia serta letupan gairah dari kejutan yang diciptakannya, mungkin kita bisa menyisihkan langkah lebih mendalam kepada asal-mula kelahiran kembali ini, dan memilih melihatnya lebih sekadar kebangkitan seketika yang timbul laksana kawanan lebah dari jasad-jasad busuk fasisme dan perang. Tidak diragukan bila pembebasan dan bentuk-bentuk sosial, moral dan ekonomi Italia dipandang telah memainkan peranan menentukan dalam produksi filem. Kita akan kembali ke soal ini nanti. Nyata sudah bila kurangnya informasi mengenai sinema Italia telah memerangkap kita pada kepercayaan akan keajaibannya yang tiba-tiba.
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 05 November 2008 14:41 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Refleksi Ontologi Sinematografi |
|
|
|
|
Ditulis oleh Indra Karan
|
|
Rabu, 22 Oktober 2008 22:55 |
|
Ontologi sinematografi dan refleksinya pada sinema merujuk pertanyaan soal apa itu filem, apa yang membuat sebuah filem menjadi filem, dan untuk menilai apa yang akan disebut Wittgenstein sebagai tata bahasa konsep kita soal filem beserta peranan yang dimainkannya dalam berbagai bentuk kehidupan kita. Kemampuan untuk merekam citra-citra bergerak dengan begitu telah menyambangi para moderenis dan menjadikan sejarah-sejarah sinema milik moderenisme. Persinggungan tindak-tanduk manusiawi, penelisikan keilmuan, upaya artistik dan debat-debat filosofis telah membingkai moderenisme bersamaan dengan kelahiran sinema. Sinematografi merupakan proyeksi citraan-citraan yang terikat dalam ruang dan waktu. Citraan-citraan yang tampak nyata memiliki tata bahasa mereka sendiri dan mewakili dunia mereka sendiri, “sebuah dunia mandiri”. Citraan-citraan ini, yang direkam dan diproyeksikan, yang melakukan percakapan berkelanjutan bersama kita dan mencoba mengatakan sesuatu (atau banyak hal), yang terkadang berkerabat dengan, dan melampaui, pengalaman-pengalaman kita, di mana pelampauan ini hanya bisa ditengahi melalui keterlibatan. Semuanya bergantung pada pembayangan ujung-ujung pemahaman manusia, baik sebagai pencipta maupun sahaya (penerima, penonton, pelibat, pengusil dan penyelidik) untuk memaknai citraan-citraan ini, “citraan-citraan yang digunjingkan.”
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 04 November 2008 12:53 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Redaksi Footage
|
|
Rabu, 10 September 2008 16:40 |
|
(Temporarily not available in english) Rencana pemerintah Indonesia untuk memulai era penyiaran televisi digital harus dicermati saksama. Selama ini sistem penyiaran analog bebas mengudara (free-to-air) memang menyisakan beberapa persoalan, terutama masalah rebutan frekuensi. Dengan sistem penyiaran digital, dapat dipastikan akan lebih banyak kanal terpakai tanpa menimbulkan masalah. Sebabnya, secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk televisi analog dapat digunakan pula oleh siaran televisi digital. Lebar pita frekuensi analog dan digital berbanding 1:6, yang berarti bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital, dengan memakai teknik multiplek, dapat digunakan untuk memancarkan 6-8 kanal transmisi serempak dengan program berbeda.
Selain didukung oleh teknologi penerima yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan, televisi digital juga didukung oleh sejumlah pemancar yang membentuk jaringan berfrekuensi sama sehingga daerah cakupan siar bisa diperluas. Dengan begitu, akan terjadi efisiensi pemanfaatan kanal frekuensi, di mana satu kanal dapat diisi 4-6 program sekaligus, dengan kualitas digital definisi standar (standard definition) maupun definisi tinggi (high definition). Kemungkinan multi-penyiaran membuat sistem ini bisa jadi solusi pengembangan televisi berjaringan, seperti diamanatkan oleh undang-undang penyiaran No. 32 tahun 2002, yang mengusung semangat desentralisasi dan otonomi daerah warisan orde reformasi.
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 17 September 2008 15:18 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
Kenyataan Keseharian dalam Ladri di Biciclette |
|
|
|
|
Ditulis oleh Mahardika Yudha
|
|
Kamis, 28 Agustus 2008 18:00 |
|
Pertanyaan-Pertanyaan Malam ini adalah diam kesekian saya terhadap satu filem neorealisme Italia, Ladri di Biciclette (1948) yang dibuat oleh Vittorio de Sica dari naskah Cesare Zavattini. Saya tertegun dengan kepercayaan saya terhadap apa yang dikatakan filem itu tentang kenyataan kehidupan masyarakat Italia pasca Perang Dunia II yang dihadirkan sebagaimana mestinya. Bagaimana saya begitu percaya bahwa filem itu dibuat dengan membiarkan latar kenyataan berjalan namun tidak menimbulkan konflik citraan. Saya teringat dengan peristiwa ketika saya harus bersembunyi di balik pepohonan karena jalan di Taman Bunga Cibubur yang hendak saya lintasi sedang dipakai untuk pengambilan gambar. Apakah konflik citraan akan terjadi jika perlintasan saya menjadi latar adegan filem itu? Apakah ilusi akan patah karena itu? Lalu bagaimana dengan praktik medium video yang sejak kemunculannya mendekati neorealisme?
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 16 September 2008 18:24 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
Selasa, 12 Agustus 2008 21:27 |
Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon jagung. –Visva Bharati.
Tentang Kota Januari 2008, musim hujan di Jakarta dan musim dingin di Guwahati. Inilah perjalanan lintas musim Asia pertama saya dan perjalanan itu merupakan perjalanan saya ke sebuah kota India. Saya mengetahui India hanya dari bacaan buku-buku, termasuk novel Pather Panchali dan Aparajito karya Banerji juga puisi Kepada Tanah Jawa, yang dituliskan Tagore ketika berkunjung ke Indonesia. Tidak lupa pula, pengalaman visual yang saya peroleh dari filem-filem produksi India. Mulai dari realisme Satyajit Ray hingga Bollywood. Kota Guwahati terletak di distrik Assam. Berada di wilayah timurlaut India yang berbatasan langsung dengan Bangladesh, Myanmar, dan Indo-Cina. Wilayah itu rentan konflik. Setiap hari selalu termuat berita tentang perseteruan antara kaum militan dengan militer India. Di Assam sendiri terdapat banyak kelompok militan. Satu yang paling terkenal bernama United Liberation Front of Assam (ULFA). Nama kelompok ini sangat mudah ditemukan di tembok-tembok sepanjang jalan kota Guwahati. Begitu terkenalnya kelompok ini, dan juga kelompok-kelompok lainnya, membuat ketika saya berkunjung ke Kalkuta dan menetap di mes Guwahati, diawasi dan dijaga begitu ketat. Persoalan geografi, konflik ideologi dan demografi masyarakat timurlaut India inilah yang memicu dilaksanakannya Northeast India and Its Transnational Neighborhood pada 17-18 Januari 2008, sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Indian Institute of Technology Guwahati, India. Konferensi ini juga menjadi titik tolak diadakannya dua kegiataan budaya yang diorganisir oleh Desire Machine Collective. Pertama, pameran visual Inner Lines yang dikuratori oleh Mriganka Madhukaillya. Kedua, residensi seniman pertama yang diadakan di kota Guwahati, diberi nama Periferry 1.0, yang diikuti oleh tujuh seniman dari enam negara. Dua pameran ini mengacu pada konsep perbatasan beserta sebab-akibatnya. Lintas budaya dan persoalan yang mengiringinya dibicarakan melalui karya-karya visual. Arts Network Asia (ANA) dan International Artists Association KHOJ merupakan lembaga-lembaga yang mendukung kegiatan ini.
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 15 Agustus 2008 15:51 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Membaca Isyarat Tak Terpahami Michael Haneke |
|
|
|
|
Ditulis oleh Mirza Jaka Suryana
|
|
Jumat, 03 Oktober 2008 19:16 |
|
(Temporarily Not Available in English) Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas Wina dan bekerja sampingan sebagai penulis filem dan kritik sastra. Sebagai sutradara, karyanya mulai dikenal melalui filem The Seventh Continent (1989). Filem Code Unknown, yang dibintangi Julliette Binoche, Alexandre Hamidi, Josef Bierbichler, Thierry Neuvic, Luminita Gheorghiu, dan Ona Lu Yenke, menegaskan posisi Haneke sebagai sutradara penting dunia.
Filem Code Unknown dimulai dengan adegan seorang gadis tunarungu memberikan isyarat tak terpahami kepada teman-temannya. Tak satupun jawaban teman-temannya yang bisa diterima sebagai kebenaran. Adegan kemudian dilanjutkan perjumpaan Jean (Alexandre Hamidi) dengan Anne (Juliette Binoche) di jalanan kota Paris. Jean digambarkan sebagai pemuda serampangan yang kabur dari rumah, dan mencari perlindungan abangnya (Theirry Neuvic), seorang wartawan foto yang sedang bertugas di wilayah Balkan. Anne, yang merupakan pacar abangnya itu, sedang tergesa sehingga tidak mampu menanggapi persoalan Jean dengan baik. Dia mencoba membayarnya dengan makanan dan kunci apartemen, dengan syarat Jean tidak boleh tinggal di sana selamanya. Masalah baru dimulai ketika Jean melemparkan sampah bekas makannya kepada Maria (Luminita Gheorghiu), seorang yang akhirnya teridentifikasi sebagai imigran Rumania di kota Paris. Adegan ini seakan menunjukkan rasa frustrasi Jean karena permasalahannya tidak mendapat tanggapan baik. Seorang guru musik keturunan Afrika, Amadou (Ona La Yenke), melihat peristiwa penghinaan itu dan meminta Jean meminta maaf pada Maria. Jean menolak, Amadou memaksa sedang Maria mencoba kabur dari kericuhan.
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 06 Oktober 2008 22:44 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company |
|
|
|
|
Ditulis oleh Kwee Tek Hoay
|
|
Senin, 01 September 2008 17:10 |
|
(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi berita-berita melayu yang paling berharga dan digemari oleh pembaca, tiada lain adalah cerita-cerita populer terjadi di masyarakat. Mengikuti kemauan pembaca di waktu itu, F. D. J. Pangemanann memuat di Perniagaan beberapa cerita yang direkayasa dari Djawa Koe’on, dan di antara cerita-cerita itu, yang paling terkenal adalah cerita "Si Tjonat", pemimpin penyamun di daerah Tangerang.
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 02 September 2008 02:34 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
The Wind Will Carry Us: Memaknai Kembali Komunikasi |
|
|
|
|
Ditulis oleh Otty Widasari
|
|
Selasa, 15 Juli 2008 00:00 |
|
Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat jauh. Perubahan warna matahari menggambarkannya, di lahan luas berwarna emas. Simpul komunikasi pun ditunjukkan dalam filem besutan Abbas Kiarostami, The Wind Will Carry Us.
Syahdan, sebuah perjalanan pencarian spiritual dilakukan Behzad dan kru yang akan memfilemkan upacara kematian tradisional di desa suku Kurdi, Shiah Dareh. Perjalanan ini membawa kebudayaan moderen bersamanya dan hinggap di relung kebudayaan tradisional yang diisi oleh perempuan, anak-anak dan para lelaki usia senja. Secara fungsional diceritakan bahwa lelaki Kurdi memiliki karakter sosial perantau dan selalu keluar dari kampungnya untuk bekerja, sekolah ataupun berjuang untuk kemerdekaan bangsa Kurdi. Pencarian spiritual ini mengesankan sebuah aksi pencarian harta karun yang terpendam ribuan tahun karena lokasi yang didatangi adalah merupakan situs yang tersembunyi dari sejarah peradaban Iran dan merupakan kota purba tempat asal-usul bangsa Kurdistan yang bahkan disebut sebagai jejak pertama orang Aria yang dikenal sebagai Iran sekarang ini, dan merupakan perlintasan budaya antara barat dan timur.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Bilal: Dilema Kebebasan dan Fasisme Ideologi Punk |
|
|
|
|
Ditulis oleh Mirza Jaka Suryana
|
|
Kamis, 17 Juli 2008 00:00 |
|
Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X (2008) masih memainkan bentuk-bentuk eksterior dari sebuah identitas. Meski demikian,Bilal dapat dijadikan acuan untuk menganalisa kondisi dunia kekinian. 
Melihat Bilal mengumandangkan azan dalam balutan pakaian dan gaya rambut punk bagi saya merujuk ke arah-arah yang saling bertentangan. Arah pertama dari karya video ini adalah kesengajaan untuk membalikkan pemahaman tradisional muslim tentang cara berpakaian seorang muazin. Sutradaranya seakan ingin menegaskan bahwa ciri-ciri berpakaian seseorang tidak lantas melekatkannya dengan ideologi atau kelompok tertentu. Anak punk yang menjadi muazin bisa jadi merupakan suatu kontradiksi, sebab dalam keyakinan Islam tradisional, Bilal adalah seorang yang berpakaian baik, dalam arti tidak serampangan, apalagi dengan rambut bergaya jengger ayam.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 2 |
|
|
Sedang.Online_!
Kami memiliki 33 Tamu online
Statistik_!
Anggota : 29
Konten : 38
Jumlah Kunjungan Konten : 16532
|