I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hafiz dan Akbar Yumni   
Selasa, 26 Januari 2010 22:09

Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang mereka jual. MTV telah meraup keuntungan besar dari bisnis ini. Kehadiran kanal khusus video musik ini telah melahirkan kebudayaannya sendiri, yang kita kenal sekarang sebagai Budaya MTV.

houseofcards-01houseofcards-05houseofcards-02

Kekuatan videoklip ini tentu tidak lepas dari bagaimana grup musik berkolaborasi dengan sutradara/seniman video dalam mengemas sebuah tayangan. Kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa filem dan video digunakan sebagai pengikat untuk menarik pemirsa. Namun, dalam industri musik memang sering yang lebih berkuasa adalah industrinya itu sendiri. Tak jarang sebuah videoklip mengabaikan konsep-konsep artistik video dan filem. Industri musik lebih percaya kepada bagaimana musik itu dijual dengan menghadirkan “tampang” pemusik sambil bernyanyi dan bermain musik. Kalaupun ada pengadeganan, hanya sebagai ilustrasi dari syair-syair dalam lagu layaknya opera sabun. Inilah yang sering kita lihat dalam video-video musik selama ini.

Namun, di antara banyaknya videoklip yang diproduksi industri musik, tentu ada beberapa yang perlu mendapat perhatian. Video-video yang baik ini bukan hanya sebagai pelengkap para penyanyi untuk hadir di televisi, namun dikemas dalam usaha menyampaikan pesan kultural yang berpijak dari musik dan video. Kami menemukan video House of Cards Radiohead dari album In Rainbows (2007).

Videoklip House of Cards

Video House of Cards menghadirkan Thom Yorke (vokalis Radiohead) bernyanyi dalam bentuk titik-titik piksel yang bergerak. Imaji piksel yang berbentuk Thom Yorke itu bergerak mengikuti syair lagu dan saling bergantian dengan gambar-gambar lanskap surealis yang muncul saling bergantian dengan sapuan yang halus. Video ini disutradarai oleh James Frost yang juga menyutradarai video Yellow, Coldplay—sebuah video klip dengan ambilan satu tembakan.  House of Cards diproduksi pada 2008 oleh Zoo Films dan EMI Music.

Video House of Cards perlu mendapat catatan dalam sejarah perkembangan video musik, karena secara hasil, kolaborasi musik dan video ini menimbulkan dimensi virtual dalam gambar-gambarnya. James Frost berhasil melahirkan fenomena lain dalam bahasa video musik televisi. Ia bukan hanya hadir sebagai imaji, namun piksel-piksel itu membongkar kembali apa yang selama ini kita tandai sebagai imaji. Visual dimuaikan dalam rekaman yang sama sekali tidak biasa—dengan menggunakan teknologi laser dan transfer data dari kenyataan secara langsung. Data-data itu disimpan dan dibentuk dalam formasi bentuk yang menghasilkan fantasi lain dalam video musik. Selain itu, Zoo Films juga mempublikasikan House of Cards dalam format data yang dapat langsung diakses oleh audiens di internet (kunjungi: http://code.google.com/creative/radiohead/viewer.html). Yang menarik dari format data yang ada di Google Code itu adalah semua pengkases dapat mengklik video dan mengubah bentuknya. Saat data itu diklik, muncullah  berbagai perspektif; ke samping, atas dan depan sesuai dengan keinginan pengakses. Inilah yang disebut, dalam bahasa Lev Manovich, dengan ‘symbolic form’, yaitu sebuah ambilan gambar yang diperoleh bukan berdasarkan perekaman kamera (shot) dan pencahayaan, tapi berdasarkan pengambilan data (capturing data).

Pada videoklip ini, audiens bisa mengganti tampilan visual berupa lanskap kota interaktif sesuai keinginan audiens dalam berbagai perspektif. Visual Thom Yorke, dalam bahasa Lev Manovich adalah representasi numeric—sebuah proses visualisasi bukan berdasarkan ambilan kamera (shot), tapi penangkapan data (capturing data). Karena representasi numeric inilah, yang kemudian membuka peluang terhadap segala bentuk manipulasi perangkat lunak, sehingga memungkinkan interaksi dengan para audiens.

houseofcards-03houseofcards-06

Video ini diproduksi dengan cara merekam sinyal gelombang yang terdapat pada tekstur fisik wajah Thom Yorke, gradasi ruang, kedalaman dan tekstur bentuk benda-benda sekitarnya. Proses pengambilan data dilakukan dengan teknologi geometric information dan Velodyne LIDAR. Geometric information secara terstruktur menghasilkan cahaya untuk menangkap citra 3D (tiga dimensi) pada hampiran terdekat. Sementara sistem LIDAR Velodyne yang memakai berlipat-lipat laser yang digunakan untuk menangkap lingkungan yang besar macam lanskap. Pada video ini, semua adegan eskterior dihasilkan melalui 64 laser yang berputar dan menangkap sinyal dari 360 derajat dalam radius 900 kali per menit.

Representasi numeric membawa kelanjutan pada sebuah visual yang oleh Lev Manovich mengutip dari analisis Ervin Panofsky's sebagai symbolic form (format simbolik) pada masa moderen, menjadi symbolic form di masa komputer (teknologi informasi/new media). Format simbolik pada masa moderen telah mengandaikan, dalam istilah Ernst Gomrich, ‘skema-skema reprsentasional’, atau bahkan ‘jaringan kutipan terperikan berasal dari ruang-limpah pusat budaya’ dalam bahasa Roland Bartes. Sedangkan symbolic form pada media baru (komputer) adalah bagaimana memodifikasi dari sinyal yang telah ada.

Format simbolik pada House of Cards Radiohead dihasilkan dari olah data pada komputer. Hal ini memunculkan logika-logika sendiri dalam konteks pengolahan data dan persinggungannya dengan citra yang dibangun. Manovich membedakan antara data dan narasi, karena keduanya merupakan musuh alamiah. Menurutnya, narasi mengandaikan adanya “awalan” dan “akhiran”, yang merupakan prinsip bentuk dalam “literasi” dan “sinema” pada era moderen. Sedangkan data di era komputer tidak mengandaikan adanya ‘awalan’ dan ‘akhiran’, tapi lebih mengorganisir data yang menjadi “sekuen” (sebuah kumpulan peristiwa/data). Data-data itu tidak memiliki hirarki, semua elemen data mengandung kesejajaran dan memiliki signifikasi yang sama dalam satuan individu. Pada narasi, hal itu berlaku sebaliknya, yaitu ada hirarki seperti ‘penokohan’ dan lain sebagainya. Video House of Cards tampilan visual yang berasal dari gelombang, menampilkan satuan individu (menjadi kumpulan data) berupa kepala Thom Yorke sang vokalis Radiohead. Dari sini, kita dapat mengatakan bahwa House of Cards mengalami proses representasi berdasarkan data yang tidak membentuk narasi.

Kalau kita melihat perkembangan penggunanan representasi numerik pada akhir-akhir ini, ia juga mengalami penarasian (penceritaan). Seperti pada praktik videogame dan filem-filem animasi juga 3D Hollywood. Prosesnya, data ditempatkan berdasarkan algoritma merujuk narasi atau cerita yang dibuat oleh sutradara dan penulis cerita. Semacam konvensi budaya yang bersenggama dengan perangkat lunak dalam teknologi informasi.

houseofcards-09houseofcards-10

House of Cards Radiohead pada dasarnya adalah sebuah kekuatan paradigmatik. Sebagai format simbolik yang terdapat pada eksplorasi tampilan kepala Thom Yorke yang diperoleh berdasarkan data gelombang adalah proses dematerialisasi dari kenyataan visual dalam sistem logaritma komputer. Media baru pada dasarnya bukan menampilkan narasi yang mengandaikan sebuah “sebab akibat”. Hal ini dapat kita lihat kembali kepada sejarah perekaman kamera pada Man with a Movie Camera, Dziga Vertov. Menurut Lev Manovich, Vertov melalui Man with a Movie Camera menciptakan “sesuatu” yang diilustrasikan sebagai middle-ground antara data base dan narasi. Format simbolik dalam bahasa Manovich mengandaikan sebuah era baru terhadap sinema. Pada masa filem-filem realisme, perekaman kamera merupakan periode di mana visual selalu mengandaikan narasi sebagai representasi terhadap realitas. Hal inilah yang dibongkar oleh Dziga Vertov dengan Manifesto Kino Eye. Berdasarkan kaidah-kaidah Kino Eye Vertov inilah kemudian direfleksikan oleh Lev Manovich menjadi kino-brush yang  mengasumsikan pengambilan data sebagai pengganti perekaman kamera, yang berdampak pada proses representasi numerik. Kino brush mengandaikan sinema yang basis representasi database. Pada Kino Eye mengandaikan skema-skema representasional yang sudah tersedia di realitas, sedangkan pada kino brush mengandaikan adanya modifikasi terhadap sinyal gelombang yang sudah ada.

Dari bacaan di atas, dapat kita catat bahwa House of Cards merupakan satu di antara ekspresi baru yang berusaha keluar dari semangat kebudayaan narasi. Sebuah semangat interaktifitas yang merupakan keniscayaan teknologi media zaman sekarang. Selamat menikmati.

houseofcards-08houseofcards-07

Proses Pembuatan Videoklip House of Cards


 


*Radiohead, Thom Yorke (vokal utama, gitar rhytm, piano, beats), Johnny Greenwood (gitar utama, keyboard, instrumen lainnya), Ed O'Brien (gitar, vokal latar), Colin Greenwood (bass, synthesizers) and Phil Selway (drum, perkusi), merupakan grup musik rock alternatif berasal dari Abingdon, Oxfordshire Inggris, yang dibentuk pada tahun 1985. Radiohead melejit dengan single ‘Creep’ pada tahun 1992, yang kemudian dilanjutkan dengan debut albumnya ‘Pablo Honey’. Dari namanya, Radiohead memang cukup dekat dengan seni media baru, seperti yang tertuang dalam album OK Computer pada tahun 1997 yang memiliki semangat avant-garde, karena menggunakan beberapa ambient, dan pengaruh-pengaruh elektronik. Thom Yorke sendiri sebagai seorang vokalis banyak memberikan warna pada Radiohead. Karakter vokal falsetto Thom Yorke memang sangat dekat dengan gaya bermusik yang bersemangatkan seni media baru. Pada tahun 2009, Album Radiohead In Rainbows mendapatkan Grammy Awards sebagai  Best Alternative Music Album, dan nominasi untuk lagu ‘House of Cards'.

Hits
Comments
Add New Search
haka   |125.165.159.xxx |2010-08-22 17:18:36
ide pembuatan klipvideo ini berasal dari Thom Yorke atau dari sutradara/seniman videonya???
bima hardtop  - yaampun   |125.164.119.xxx |2010-06-09 12:35:47
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisasi obyek.
yoyomengong  - memang betul !!!   |125.164.203.xxx |2010-02-03 15:48:03
emang bener demikian,seharusnya permainan video pada sebuah klip musik harus berdasarkan pada representasional yang ada pada realita.tapi yang sering kita jumpai pada saat ini memang demikian,sejumlah klip mengadopsi sejumlah naratif syair2 band yang tampil di depan kamera tanpa mengindahkan dan merepresentasikan fungsi video sesungguhnya itu seperti apa???
dan pada akhirnya audience akan terkagum-kagum pada penampilan band tersebut tanpa melihat nilai2 estetika yang terkandung dalam unsur2 video tersebut,sungguh tak berimbang !!!
rekamdanmainkan   |125.161.136.xxx |2010-01-29 07:26:48
proses merekam adalah panca indera yang dimiliki oleh manusia. pengenjawantahannya adalah proses kreatif yang kemudian dielaborasikan kedalam tindakan nyata menjadi sebuah karya
adjat gembira  - oke   |110.138.39.xxx |2010-01-26 21:33:32
pengetahuan yang baru dan bermanfaat banget buat gw..
adjat gembira  - oke   |110.138.39.xxx |2010-01-26 21:32:33
pengetahuan yang sangat baru dan bermanfaat banget buat gw...
ajang ajeng  - wuiiihhh...   |110.138.46.xxx |2010-01-26 19:19:27
kino brush..wuiiih

merekam tanpa kamera..wuiiih

di indonesia udah bisa bikin yg kayak gini blom ya?
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 27 Januari 2010 00:46
 
More articles :

» Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos

Pameran7-13 Agustus 2010 (hari Minggu tutup)Pukul 10.00-17.00TempatGoetheHaus, JakartaJl. Sam Ratulangi No.9-15 Menteng, JakartaPembukaanJumat, 6 Agustus 2010, pkl. 19.00Videotalk bersama Anggun Priambodo (pembuat video musik) & Indra Ameng...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 519
Konten : 146
Jumlah Kunjungan Konten : 157380

Artikel.Lain_!

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan
Sabtu, 19 Desember 2009

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)
Rabu, 20 Januari 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Revolusi Mengalun Bagai Refrain Sebuah Lagu*
Kamis, 03 September 2009

*(atau kerap disebut juga dengan): Di Tengah Serba-Ketergantungan, Lahirlah Sinema Baru Filipina   Istilah independen pernah berarti sesuatu dalam sinema Filipina. Ia merujuk pada nama-nama besar seperti Rox Lee (animator), Raymond Red (sutradara...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Senin, 06 Juli 2009

(Sementara tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Membaca Isyarat Tak Terpahami Michael Haneke
Jumat, 03 Oktober 2008

Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas...

Sinema Digital dan DVD
Senin, 28 September 2009

Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri lain filem Anda ialah musik, yang...

Toshio Matsumoto (1932-)
Rabu, 12 Agustus 2009

Kenyataan Keseharian dalam Ladri di Biciclette
Kamis, 28 Agustus 2008

Pertanyaan-PertanyaanMalam ini adalah diam kesekian saya terhadap satu filem neorealisme Italia, Ladri di Biciclette (1948) yang dibuat oleh Vittorio de Sica dari naskah Cesare Zavattini. Saya tertegun dengan kepercayaan saya terhadap apa yang...

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Sabtu, 03 Juli 2010

Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump...

Perbincangan dengan Budi Darma
Selasa, 14 Juli 2009

Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah dipertontonkan ke khalayak umum. Di antara sekian...

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru
Jumat, 24 Juli 2009

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi...

Prima Rusdi: Satu Dekade Reformasi Bisa Percuma
Kamis, 12 Juni 2008

Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, Proyek Payung menggelar acara pemutaran sepuluh filem pendek dari sepuluh sutradara muda di Kineforum tanggal 12-20 Mei 2008. Sambutan penonton terbilang memuaskan. Apa dan kenapa Proyek Payung didirikan?...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Minggu, 10 Mei 2009

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Katalog Massroom Project
Jumat, 03 Juli 2009

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta
Senin, 13 Juli 2009

Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh In-Docs, sebuah organisasi di bawah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia. Sebelumnya, program screenDocs! diputar...

Sekarang, Filem Pendek (Tidak) di Tangan Konfiden
Senin, 23 November 2009

Waktu akan tetap memperhatikannya (Konfiden-red.), konsistensi dan keseriusannya akan teruji, sejauhmana bisa bertahan dengan visi yang ada. Demikian juga sejauhmana jika terjadi perkembangan yang membuat para aktivisnya bisa bertahan pada visi...

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

Arkeologi Seni Media
Sabtu, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Sabtu, 06 Maret 2010

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian...

"Media" di Kepala Rafaël Rozendaal
Jumat, 19 Februari 2010

Dalam beberapa pameran video dan seni media yang sempat saya kunjungi, kehadiran karya-karya video menjadi salah satu bagian yang penting dalam presentasi seni media. Namun, bagaimanakah kita mendefinisikan "karya" video tersebut? Dalam perspektif...

Chris Marker: Dalam Ingatan Teknologi Baru
Jumat, 12 Juni 2009

1. Ingatan KakuSaya ingat membicarakan filem cerita mutakhir Chris Marker, Level Five (1996), dengan seorang teman saat pertama kali filem itu keluar. Pada umumnya ia terkesan, tapi gundah oleh istilahnya sendiri: “pandangan seorang tua atas...

Di Dasar Segalanya: Citra Kecemasan Surealis
Minggu, 20 Desember 2009

Pada 17 Desember, 2009, saya berkesempatan untuk menonton filem kedua Paul Agusta, Di Dasar Segalanya (At The Very Bottom of Everything) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbeda dengan filem pertamanya, Kado Hari Jadi, kemasan filem ini...

Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara
Senin, 03 Agustus 2009

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4? Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

Tarzan ke Kota dengan Cacat Logika Bawaan
Rabu, 17 Desember 2008

Filem berjudul Tarzan ke Kota dicap sebagai ulang-buat filem Tarzan Kota yang dibintangi aktor legendaris Indonesia, Benyamin Sueb dan disutradarai oleh L. Sudjio. Meski terdengar sama, Tarzan ke Kota merupakan filem yang dipertontonkan pertama kali...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Jumat, 24 Oktober 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Refleksi Ontologi Sinematografi
Rabu, 22 Oktober 2008

Ontologi sinematografi dan refleksinya pada sinema merujuk pertanyaan soal apa itu filem, apa yang membuat sebuah filem menjadi filem, dan untuk menilai apa yang akan disebut Wittgenstein sebagai tata bahasa konsep kita soal filem beserta peranan...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net