I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Aditya Adinegoro   
Sabtu, 06 Maret 2010 15:04

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”.

- Nam June Paik (1932-2006)

 

Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian yang diatur oleh seorang penguasa tunggal yang disebut dengan “Big Brother”. Dalam novel tersebut, Orwell menulis dan “meramalkan” tentang sebuah teknologi yang digunakan oleh Big Brother sebagai alat untuk pengawasan serta pengontrol pikiran secara massal. Alat itu bernama “Telescreen” yang hadir di setiap rumah-rumah penduduk, dan memutarkan program propaganda setiap harinya selama 24 jam., dan sayangnya ketika Telescreen dinyalakan ia tidak dapat dimatikan sama sekali…

nam_june_paiknam-june-paiknam_june_paik1

 

Mengenang Nam June Paik

Televisi telah menjadi perhatian dan fokus utama dalam karya-karya Nam June Paik. Ia adalah seniman pertama yang menjadikan video dan televisi sebagai medium dalam berkarya. Melalui proyek televisi, instalasi, performance, kolaborasi, pengembangan peralatan baru bagi seniman, menulis serta mengajar, ia telah melakukan kontribusi kepada penciptaan sebuah budaya media yang akhirnya meluaskan bahasa dan definisi dari pembuatan karya seni.

Lahir di Seoul-Korea Selatan pada 1932, Paik merupakan anak kelima dan ayahnya seorang pengusaha tekstil. Sejak kecil ia telah dilatih untuk menjadi pianis musik klasik. Pada 1950, ia bersama keluarganya meninggalkan tanah kelahirannya akibat perang Korea. Pertama-tama mereka mendarat ke Hong Kong, lalu kemudian menetap di Jepang. Di Jepang, Paik belajar tentang Sejarah Seni dan Sejarah Musik di Universitas Tokyo lalu lulus 6 tahun kemudian dengan mengambil tesis tentang komposer Arnold Schönberg. Ia kemudian pindah ke Jerman pada 1956 untuk melanjutkan studinya tentang Sejarah Musik di Universitas Munich dan bertemu dengan komposer avant-garde Jerman, Karlheinz Stockhausen lalu belajar tentang Komposisi di Freiburg Conservatory. Dua tahun kemudian ia bertemu dengan komposer avant-garde lainnya asal Amerika, John Cage dan bekerja di Studio für Elektronische Musik di WDR, Cologne hingga 1963. Paik juga bertemu dengan seniman konseptual Joseph Beuys, dan Wolf Vostell yang menginspirasinya untuk berkarya dalam ranah seni elektronik.

Good Morning, Mr. Orwell (1984} di UBU

Rentang 1959-1962, Paik menampilkan bagian dari action music-nya; Stockhausen's "Originale" di Cologne. Terinspirasi oleh John Cage, Paik kemudian bergabung dengan gerakan seni Neo-Dada yang dikenal dengan nama Fluxus. Pada 1963 ia ikut berpartisipasi dalam "Fluxus. Internationale Festspiele neuester Musik" di  Wiesbaden dan melakukan pamerannya yang pertama "Exposition of Musik/Electronic Television" di Galerie Parnass-Wuppertal, dan dalam pameran tersebut ia menyebarkan televisi di mana-mana dan menggunakan magnet untuk mendistorsi gambar-gambarnya. Kemudian Paik kembali ke Jepang dan bertemu dengan Shuya Abe, kemudian mereka melakukan eksperimen dengan elektromagnet dan televisi berwarna.

Kemudian pada 1964, Paik pindah ke New York dan memulai berkarya bersama pemain cello klasik Charlotte Moorman untuk mengkombinasikan video, musik dan performance-nya. Dari kolaborasi tersebut terciptalah karya TV Cello, di mana dalam pengerjaannya dua pasang televisi disusun pada bagian atas dan di bagian bawah kemudian dibentuk menyerupai sebuah cello asli. Ketika Moorman menggesek alat geseknya di atas “cello”, gambar dari permainannya dan gambar dari pemain cello lainnya akan muncul pada layar. Pada 1965, Sony meluncurkan Portapak sebuah kamera video portable pertama dan Paik merupakan seniman yang menggunakannya untuk pertama kali. Dan hari ketika ia mendapatkan kameranya, Paus dari Vatikan tengah berkunjung ke New York, segera Paik merekam prosesi Sang Paus yang turun ke jalanan kota dan memutar footage tersebut pada malam harinya di Café a Go-Go. Dari sana, Paik kemudian menjadi selebriti internasional yang dikenal karena kreativitas dan karya-nya yang menghibur. Di tahun ini juga Paik melakukan pameran tunggal pertamanya, 'Electronic Art' in the USA di Galeria Bonino, NewYork.

good-morning-mr-orwell-calvacade-of-intellectualsgood-morning-mr-orwell-john-cage

John Cage

good-morning-mr-orwell-laurie-anderson

Laurie Anderson

good-morning-mr-orwell-merce-cunningham

Merce Cunningham

good-morning-mr-orwell-moorman-and-tv-cello

Charlotte Moorman

good-morning-mr-orwell-the-host

Nam June Paik kemudian mengerjakan instalasi multi-monitor pertama kalinya, Electronic Opera No.1 pada 1966-1969 dengan menggunakan rekaman TV yang terdistorsi secara magnetik. Kemudian ditampilkan pada program siaran langsung The Medium is the Medium di GBH-TV, Boston. Pada 1967, Charlotte Moorman ditahan oleh polisi akibat tampil topless ketika memainkan karya Paik, Opera Sextronique. Dua tahun kemudian, mereka menampilkan TV Bra for Living Sculpture, dimana Charlotte menggunakan bra dengan layar TV kecil pada bagian depannya. Kemudian pada 1969-1970, Paik bersama Shuya Abe mengkonstruksi video synthesizer.

Pada 1971, Paik bekerja di WNET's TV Lab, New York. Empat tahun kemudian ia membuat Video Fish, sebuah seri dari akuarium horizontal berisi ikan hidup yang berenang di depan beberapa monitor dan menampilkan gambar video yang sama dari ikan lain. Paik kemudian melakukan pameran retrospektif pertamanya di Kölnischer Kunstverein-Cologne pada 1976, kemudian ia ditunjuk sebagai profesor pada Staatliche Kunstakademie-Dusseldorf dari 1979 sampai 1996. Ia kembali menggelar pameran retrospektif-nya di Whitney Museum of American Art, New York pada 1982 dan meluncurkan karya satelit “instalasi” pertamanya, Good Morning Mr. Orwel" dari  Centre Pompidou-Paris, dan di WNET-TV Studio-New York pada pagi di hari pertama tahun 1984.  Dalam karyanya yang lain Something Pacific (1986), Paik menampilkan sebuah patung Budha yang sedang duduk menghadap ke sebuah CCTV (karya ini merupakan bagian dari Stuart Collection of Public Art di University of California, San Diego).

Paik juga dikenal karena membuat robot dari beberapa set televisi. Karya-karya ini sebelumnya dikonstruksi menggunakan kabel dan besi, namun untuk selanjutnya Paik juga menggunakan bagian-bagian dari radio dan televisi. Kemudian di tahun 1986, ia membuat Bye Bye Kipling sebuah kombinasi rekaman dari live event di Seoul, Tokyo dan New York. Dua tahun kemudian, ia menunjukan cinta kepada tanah kelahirannya dengan membuat karya The More The Better, sebuah menara raksasa yang dibuat dari 1.003 monitor untuk pertandingan di Olimpiade Seoul 1988. Karyanya, Video Arbor diletakan sebagai patung publik di Philadelphia pada tahun 1990. Paik melakukan pameran gandanya Video Time-Video Space pada tahun 1991-1992 di Kunsthalle Basel dan Kunsthalle Zürich.

Sebuah pameran retrospektif akhir dari keseluruhan karyanya, The Worlds of Nam June Paik digelar pada tahun 2000 di Guggenheim Museum-New York. Sebuah bentuk apresiasi atas refleksi dari kehidupan dan kegiatan berkesenian Nam June Paik. 29 Januari 2006, seniman Korea-Amerika ini meninggal di Miami-Florida.

more-the-betternamjunepaik

Kehidupan seni Paik tumbuh dalam politik dan gerakan anti-art dari tahun 1950–1970an. Pada masa pertukaran budaya dan sosial ini, ia berusaha untuk mengejar sebuah tugas untuk menggabungkan kapasitas ekspresif dan kekuatan konseptual dari performance, dengan kemungkinan teknologi baru yang berasosiasi dengan gambar bergerak (moving images). Ini mungkin merupakan bentuk kekuatan dari gagasannya tentang seni berbasis media, pada masa di mana sekarang gambar bergerak elektronik dan teknologi media semakin meningkat dalam perkembangannya. Paik bersama-sama dengan seniman avant-garde yang lain terlibat dalam Fluxus. Fluxus sendiri memiliki kesamaan semangat dengan gerakan seni awal Dada, yaitu mengembangkan konsep dari anti-seni dan mengambil alih keseriusan dalam seni modern.  Dalam proses artistiknya, Fluxus merupakan seni antarmedia. Seniman Fluxus lebih suka melihat apa yang terjadi ketika media yang berbeda berkolaborasi, mereka menggunakan obyek, suara, gambar dan teks yang dapat ditemukan setiap harinya untuk membuat kombinasi yang baru dari medium tersebut.

Nam June Paik mentransformasikan hal yang paling instrumental dari medium video, melalui sebuah proses di mana ia mengekspresikan wawasannya yang mendalam tentang teknologi elektronik dan pemahamannya tentang bagaimana mengkonstruksi televisi agar “merubahnya keluar” dan menjadikannya sesuatu yang baru. Citra Paik tidak ditentukan dan terbatasi oleh teknologi video atau pada sistem televisi. Sebaliknya, ia menyusun materialitas dan komposisi dari gambar elektronik yang kemudian diletakan pada “ruang” di antara televisi. Dan dalam proses akhirnya, terdefinisikan sebuah bentuk baru dari ekspresi kreatif. Paik memahami bagaimana kekuatan dari gambar bergerak telah menjadi sebuah persepsi intuitif, dari sebuah perkembangan teknologi yang telah ia kembangkan dan ia transformasikan sebelumnya.

videofish1

Excellent Birds

Act III

Oingo Bongo

Allen Ginsberg

Thompson Twins


“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Paik Terhadap Dominasi Televisi

Pada tahun 1984 tepat di pagi hari pertama tahun itu, Nam June Paik meluncurkan karya “instalasi” satelit internasional pertama-nya Good Morning, Mr. Orwell. Karya video ini merupakan sebuah program televisi berdurasi 57 menit yang terselenggara atas kerjasama dengan WNET TV di New York dan Centre Pompidou di Paris, disiarkan langsung via satelit dengan Paik sebagai konseptor dan koordinator-nya. Good Morning Mr. Orwell disiarkan ke berbagai negara di dunia secara simultan, antara lain Amerika Serikat, Perancis, Jerman Barat serta Korea Selatan dan diklaim ditonton oleh kurang lebih 25 Juta orang. Menggabungkan antara material siaran langsung serta material pra-rekam, program ini menampilkan tarian, komedi, performance art dan musik avant-garde. Dalam pembukaannya, George Plimpton sang pembawa acara menjelaskan; “…George Orwell tentu saja membuat 1984 yaitu hari ini, ketika ia menulis di tahun 1948. Ini adalah sebuah peringatan mengenai perlawanan terhadap totalitarianisme dan bahaya akan teknologi elektronik, seperti dalam kalimatnya yang terkenal: 'Big Brother is watching you'. Apa yang akan anda lihat nantinya merupakan sebuah penggabungan interaktif dan postitif dari media eletronik, yang mungkin tidak akan pernah diprediksi oleh Orwell. Ini adalah sebuah perayaan tahun baru yang hanya dapat terjadi pada televisi…”

Beberapa seniman dan musisi terlibat dalam rangkaian program ini antara lain; komposer John Cage yang tampil membawakan komposisinya dengan alat dari duri kaktus yang telah kering dan sehelai bulu. Diselingi performance art dari seniman asal Jerman, Joseph Beuys yang melakukan performance art menggunakan Grand Piano. Laurie Anderson tampil dengan menggunakan efek vocoder untuk merubah suaranya menjadi suara seorang pria dan menceritakan “kisah-nya” mengenai kecelakaan pesawat yang dialaminya dan juga kengerian tentang alat-alat digital. Sapho, penyanyi dari Prancis menyanyikan tentang “percakapannya” dengan George Orwell dalam TV is Eating Up Your Brain, di mana muncul penggalan liriknya: “Big Brother tidak mengawasimu. Tetapi TV sedang memakan otak kita. Katakan padaku, apa yang aku lakukan sekarang? Aku sedang memakan otak anda sekalian, saudara-saudara.  / Tapi George, bukankah kau sudah melakukannya. / Sesuatu masih berlangsung. Lihat, kau masih salah: Hasrat masih belum mati. Hasrat tidak pernah mati. Ia tidak pernah menjadi milik partai manapun, dan tidak pernah pergi ke partai manapun.”

Adapula komedi dari Calvacade of Intellectuals yang dibawakan oleh panelis Mitchell Kriegman dari New York dan Leslie Fuller dari Paris, di mana dalam program acara tersebut mereka seharusnya berdiskusi tentang “Kehancuran alam bawah sadar manusia yang diakibatkan oleh teknologi televisi”, namun yang terjadi justru perdebatan antar kisah cinta mereka ketika siaran satelit-nya mengalami gangguan teknis. Grup musik Oingo Boingo menyanyikan seruan untuk bangkit melawan "Big Brother" melalui lagu mereka Wake Up (It’s 1984).  The Thompson Twins tampil live dari San Francisco dengan membawakan lagu mereka Can’t Hold Me Now. Kemudian ada premiere dari video Act III di mana musiknya dikerjakan oleh musisi Philip Glass dan videonya dikerjakan oleh Dean Winkler dan John Sanborn. Urban Sax, grup orkestra saksofon tampil live dari Paris dengan menggunakan kostum khas mereka. Koreografer Merce Cunningham melakuan performance dengan menari bersama visual dirinya yang tertunda beberapa detik sehingga menimbulkan ilusi optis bagi penonton. Charlotte Moorman tampil dengan TV Cello. Begitu pula penyair Allen Ginsberg dan Peter Orlovsky juga turut hadir dalam program ini.

TV_Cellovideofish2

Masalah teknis kerap terjadi dari awal pertunjukkan ini. Beberapa versi yang berbeda dari acara terlihat di Amerika Serikat dan Prancis karena koneksi satelit di antara kedua negara tersebut sering kali terputus. Misalnya ketika Mitchell Kriegman mendemonstrasikan space yodel, George Plimpton sang pembawa acara menjelaskan bahwa suara yodel akan memantul dan melintasi jaringan satelit unutuk menciptakan sebuah gema, namun sebenarnya tidak ada gema yang terdengar pada saat itu. Paik mengatakan bahwa masalah teknis yang terjadi mungkin dapat meningkatkan mood “siaran langsung”. Lepas dari itu semua, Paik telah berusaha mendemonstrasikan dengan baik kemampuan satelit TV untuk menyajikan akhir yang positif, yaitu pertukaran budaya antar benua dengan menggabungkan highbrow art dan elemen hiburan. Good Morning Mr. Orwell merupakan usaha perlawanan Paik terhadap dominasi TV, karya ini mampu menjangkau publik  yang lebih luas karena tidak mengusung konsep sebagai karya yang dipamerkan, namun ditransmisikan dan disebarkan secara massal. Oleh sebab itu, dengan menggunakan “konsep” TV itu sendiri, Paik mencoba melawan televisi melalui televisi. Secara tidak langsung melalui karya ini, Paik mencoba untuk membuktikan bahwa “Big Brother” tidak hadir di tahun 1984, seperti dalam ramalan Orwell.

Paik memberikan wacana yang berbeda tentang televisi, sebuah “alur global” dari ekspresi sang seniman yang dilihat sebagai bagian dari “akses informasi elektronik super” yang terbuka dan bebas bagi semua orang. Bentuk ganda dari video yang dikembangkan oleh Paik tersebut bisa di interpretasikan sebagai sebuah ekspresi dari sebuah medium yang terbuka untuk tumbuh dan berkembang melalui imajinasi dan partisipasi dari komunitas maupun individu-individu dari seluruh dunia. Paik bersama dengan banyak seniman lainnya, bekerja secara individual maupun kolektif di tahun 1960an dan 1970an untuk menciptakan televisi sebagai ruang alternatif, melawan gagasan tentang televisi sebagai sebuah medium yang mendominasi secara eksklusif yang dikontrol oleh sebuah monopoli perusahaan televisi. “Televisi telah menyerang kita, kini saatnya kita menyerangnya kembali”, ujar Nam June Paik.

The Medium is the Medium, Nam June Paik

 

 


*Aditya Adinegoro adalah mahasiswa semester VIII Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Jawa Timur (Surabaya).
Hits
Comments
Add New Search
exchorina  - lanjutkan !!   |202.70.58.xxx |2010-04-08 20:10:56
wah terimakasih atas informasinya, semoga bermanfaat bagi pembaca . dibelain mpe begadang ya,hehe..
arti pijar crissandi  - muanstap   |110.139.60.xxx |2010-03-14 09:39:43
laporan tentang namjumpaik
RHARHARHA  - superb RHARHARHA   |118.96.96.xxx |2010-03-07 10:51:29
NAM JUNE PAIK MUANTAAAB ....MEONG MEONG MEONG
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 10 Maret 2010 21:34
 
More articles :

» Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut. Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

» Pertarungan Korporasi Televisi di Tengah Bencana

Editorial_Oktober 2009Bencana alam selalu menyisakan kepedihan mendalam. Apalagi, bencana tersebut merenggut ratusan korban jiwa. Begitulah yang terjadi di Sumatera Barat. Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR mengguncang ranah Minang. Sampai tulisan ini...

» Seni Video di New York: Sebuah Catatan Pengalaman

Di tengah bulan November (2009) yang dingin, saya berjalan menuju gedung Japan Society di tengah kota Manhattan, New York. Malam itu, Japan Foundation menjadi salah satu tuan rumah Performa Biennale, satu biennale seni performans terbesar di kota...

» Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4?Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

» Video: The New Wave

Menelisik Genealogi Seni Video Dunia Perkembangan seni video di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir sangat menggembirakan. Berbagai gelaran seni rupa telah memasukkan seni video sebagai bagian dari pameran seni kontemporer. Bahkan seni video...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158840

Artikel.Lain_!

Toshio Matsumoto (1932-)
Rabu, 12 Agustus 2009

Under The Tree: Gagalnya Garin Dalam Menolak Monisme Moderenitas
Senin, 28 Desember 2009

Gelaran Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 tahun ini disemarakkan oleh seksi Indonesian Feature Film Competition (IFFC) yang memperlihatkan kelayakan kualitas filem nasional di tingkat internasional. Dalam IFFC ini diseleksi...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Rabu, 16 Desember 2009

ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Rabu, 20 Januari 2010

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Rabu, 03 Maret 2010

Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli, Benih Merdeka, Sinar Merdeka, Bintang...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Jumat, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Kamis, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Tarzan ke Kota dengan Cacat Logika Bawaan
Rabu, 17 Desember 2008

Filem berjudul Tarzan ke Kota dicap sebagai ulang-buat filem Tarzan Kota yang dibintangi aktor legendaris Indonesia, Benyamin Sueb dan disutradarai oleh L. Sudjio. Meski terdengar sama, Tarzan ke Kota merupakan filem yang dipertontonkan pertama kali...

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru
Jumat, 24 Juli 2009

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi...

Der Leztze Mann: Kemandirian Sinema Murnau
Kamis, 17 Desember 2009

Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari...

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Rabu, 02 September 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Jumat, 24 Oktober 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Teater yang Difilemkan
Rabu, 09 September 2009

Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Filem berikut kita ialah My Night at...

Komedi: Melepaskan Diri dari Kecemasan Sosial-Politik
Senin, 03 Agustus 2009

Pembukaan Ok.Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, pada 28 Juli 2009, dipadati pengunjung. Malam itu, Hafiz, Direktur Festival, bersama-sama dengan Tubagus “Andre” Sukmana (Direktur...

Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas
Rabu, 27 Mei 2009

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir...

Jim Henson: Sutradara Filem Eksperimental, Bapak The Muppet Show dan Sesame Street
Selasa, 12 Januari 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Beberapa waktu lalu saya membuka sebuah situs jejaring seni media baru (new media arts) www.rhizome.org. Saat melihat dan membuka situs ini saya berhenti sejenak di sebuah video yang di-upload oleh...

Prelinger Archives: Arsip Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 03 Desember 2009

"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Kamis, 12 Juni 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

Orkestrasi Filem Bisu di Gedung Kesenian Jakarta
Kamis, 12 Juni 2008

Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...

La Hora de Los Hornos, Godard dan Solanas dalam Perbincangan
Kamis, 12 Agustus 2010

(Beberapa waktu lalu, Jurnal Footage  menemukan sebuah perbincangan antara Jean Luc Godard dengan Fernando Solanas—sutradara Argentina—dalam majalah online Indianauteur (www.indianauteur.com) yang dimuat pada 18 Juni 2010. Wawancara ini...

Sepuluh Sutradara Sepuluh Tahun Reformasi
Kamis, 12 Juni 2008

Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

"Media" di Kepala Rafaël Rozendaal
Jumat, 19 Februari 2010

Dalam beberapa pameran video dan seni media yang sempat saya kunjungi, kehadiran karya-karya video menjadi salah satu bagian yang penting dalam presentasi seni media. Namun, bagaimanakah kita mendefinisikan "karya" video tersebut? Dalam perspektif...

Saya dan Periferry 1.0
Selasa, 12 Agustus 2008

Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon...

Dua Sisi Penyelenggaraan Kompetisi Filem
Senin, 01 Desember 2008

Trauma terhadap tekanan kekuasaan dua negara fasis Jerman dan Italia dalam penyeleksian Festival Filem Venezia di akhir 1930an, Jean Zay, Menteri Pendidikan Prancis, memutuskan membuat festival yang diselenggarakan di Prancis. Pada waktu itu,...

Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010
Jumat, 25 Juni 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net