I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Tentang Uraian Luar Layar PDF Print E-mail
Written by Barbert Schoeder & Eric Rohmer, diterjemahkan oleh Ugeng T. Moetidjo   
Saturday, 29 August 2009 23:11

(available only in Bahasa Indonesia)

Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu. Ini adalah bagian pertama dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder.


rohmer06

Pertanyaan pertama saya: mengapa filem lebih bercerita dibanding tulisan?
Saya menulis fiksi berawal dengan mengarang satu buku berjudul Elisabeth, yang kini sudah tak sesuai lagi karena sekadar soal tokoh bernama Elisabeth. Saya sebut buku itu kini Rumah Elisabeth. Ditulis dalam gaya amat filmis. Mungkin itu sebabnya buku tersebut mustahil difilemkan. Tapi setelah menulis Elisabeth, ilham saya lantas mengering —setidaknya pada gaya semacam itu— karena telah demikian mengilhami sastra Amerika, khususnya Faulkner. Saya berhenti mengagumi jenis sastra itu sampai lalu terseret pada para penulis lampau. Terpikat sastra Amerika, saya membaca novel karya Melville, Bartleby. Bartleby The Scrivener. Saya hidupkan imajinasi saya yang memberi saya pandangan baru, sesuatu yang sastrawi. Segenap imajinasi itu serempak muncul dalam apa yang dinamakan sebagai “Kisah-Kisah Moral”. Bagian pertamanya ditulis dalam gaya yang lalu disebut dengan nouveau roman [gaya baru sastra Prancis, antara lain oleh Margaritte Duras], yang rupanya disambut luar biasa oleh pengarang Jean Paulhan dan Marcel Arland di jurnal sastra N. R. F., meski kalangan penerbit merendahkan dengan menyebutnya “kuno”. Paradoksnya, fiksi-fiksi semacam itulah yang telah menginspirasi filem-filem saya karena sangat tidak filmis. Itulah paradoksnya sinema.

Keenam “Kisah-Kisah Moral” itu, atau sebagian saja yang ditulis kemudian?
Semua sama sekali belum dituliskan. Saya agak tambah-tambahkan. Yang pertama ialah The Bakery Girl of Monceau, dan yang terakhir, Love in the Afternoon. Lainnya ditulis dengan judul berbeda-beda. Satu judul yang tak berubah yakni Claire's Knee. Agaknya, tokoh Claire terus menguntit saya sebab ia telah beralih ke dalam novel, yang berakhir dengan kemunculan Elisabeth tengah duduk membaca sambil satu ketika menggaruk lututnya. Agak lucu juga Claire's Knee.

Jean Marie Maurice Scherer (Eric Rohmer)

Entah kenapa, petualangan dimulai saat kita memutuskan membuat filem dengan pita hitam-putih 16 mm tanpa suara. Begitulah The Bakery Girl of Monceau.

Sebentar. Itu filem pertama saya. Filem yang sungguh lebih terbuka bagi gaya novel pertama saya, Le signe du Lion. Di dalamnya lebih banyak paparan, bukan percakapan, yang pada filem-filem saya kemudian berisi lebih banyak dialog, bahkan uraian luar-layar (off-screen). Tapi, tak seperti filem-filem Nouvelle Vague [sinema pemberontakan “Gelombang Baru” Prancis akhir 1950-an oleh Godard dan kawan-kawan] misalnya Le beau Serge dan Le Cousins-nya Chabrol, A bout du souffle-nya Godard atau 400 Coups-nya Truffaut, filem saya tak beroleh sukses. Artinya, tak ada produser yang menginginkan saya; untung saya bertemu kau, lalu mendirikan usaha produksi Les Films du Losange dan mulai melakukan shooting dengan kamera dan filem 16 mm.

Apa yang bisa kita katakan tentang The Bakery Girl of Monceau? Kisah pertama ini seakan membentuk segenap tema filem “Kisah-Kisah Moral” Anda: sang pria memilih antara dua wanita.
Benar. Tapi saya tak memakai The Bakery Girl of Monceau untuk membangun tema, sebab cerita itu telah dituliskan. Ketika saya selesai menulis semua buku itu, tak terpikir seluruhnya akan merupakan satu tema. Saya tak memperhatikan kesamaannya. Ia muncul belakangan kala saya membaca kembali semua dan memodifikasinya untuk filem.

Jadi, gagasan di balik The Bakery Girl of Monceau memakai tema fiksi untuk membuat filem pendek?
Ya, membantu. Saya punya ide yang samar-samar tentang The Bakery Girl of Monceau, namun saat menyadari tema ini, seterusnya saya telah terhanyutkan. Tema itu membantu saya dalam membentuk struktur cerita filem Love in the Afternoon sebaik-baiknya.

Le signe du Lion

Jadi, apa yang bisa kita katakan tentang The Bakery Girl of Monceau?
Banyak hal. Saya amat ditangkup kenangan akan filem itu. Memang saya hanya seorang amatir. Saya editor Cahiers du Cinema [majalah pemikiran sinema, wadah kritis alamiah Nouvelle Vouge], dan pukul 6 petang hari, kau dan saya akan bertemu di toko kue yang kita pilih dekat kantor Cahiers, untuk melakukan shooting beberapa adegan. Kita telah menemukan toko kue itu. Saya bahkan tak terpikir bagaimana kita akan membayarnya, tapi kita sudah dibolehkan membuat filem di situ. Praktis, kita membuat filem itu tanpa uang. Semuanya amatir, kecuali Michele Girardon yang sudah bermain di filem Luis Bunuel —tapi dia bukan pemeran utama di filem saya itu. Pemeran utama wanita yakni gadis di toko kue itu, yang tak punya pengalaman akting. Kita memfilemkannya dengan kamera Bolex yang juga dipakai sutradara Jean Rouch waktu itu. Sebagian dari kameraman kita punya kerja yang menarik. Mereka fotografer, bukan sinematografer. Jean Michel Maurice bahkan seorang pelukis. Satu lagi yang nama belakangnya mirip nama depan kau: Bruno Barbey. Dia wartawan internasional dan fotografer yang piawai.

Mengapa Anda pilih Tavenier untuk mengucapkan suara saya di The Bakery Girl of Monceau. Apa karena suaranya terdengar lebih aristokratis?
Bukan soal itu. Jenis untuk ucapan luar-layar filem itu tak cocok dengan gaya bicara kau. Suara Tavenier terdengar lebih “sastra”. Karena ucapan di filem saya begitu “sastrawi”, saya rasa suaranya lebih dapat terpakai ketimbang suara kau. Saya merasa agak rikuh soal ini. Semoga kau tak marah. Saya tak yakin kau pun merasa nyaman melakukannya.

Saya ingat, versi pertama La collectionneuse bahkan lebih banyak terdapat uraian luar-layar (off-screen commentary). Terasa sekali filem itu sangat rumit.
Ya, hal itu lalu mempengaruhi saya karena dalam La collectionneuse, tokohnya sungguh orang yang blak-blakan, norak, bahkan genit. Tapi pada filem “Kisah-Kisah Moral” lainnya, hampir tak banyak lagi uraian luar-layar. Hanya dua kalimat dalam My Night at Maud; dalam Claire's Knee malah sama sekali tak ada. Dalam Love In the Afternoon, ada sedikit di awal dan di tengah-tengah. Saya telah berhenti memakai uraian luar-layar.

La boulangere de Monceau

Bagaimana menurut Anda dengan tambahan voice-over?
Ada beberapa hal. Pertama, mode pada masanya. Banyak terpakai di dalam filem, malah dalam filem Amerika, filem-filem detektifnya. Saya ingat satu filem Billy Wilder telah memakai voice-over. Itu satu. Voice-over juga membuat saya bisa mengkomunikasikan gagasan yang sulit diungkap dalam filem. Maka terasa, filem bicara lebih kurang lentur dibanding filem bisu, sebab filem bisu kemudian punya “teks tambahan” atau “cantuman teks” yang kini kita istilahkan “antar-teks” (intertitles). Segenap pemakaian itu, baik untuk dialog maupun uraian, menambah dimensi lain dalam filem. Bagaimana si tokoh utama memandang dirinya sendiri, dapat “dituliskan” di layar. Ini berarti, tindakan dan kata-katanya, tak selalu sesuai dengan uraian.

Ini menarik. Anda bisa lanjutkan ke hal lain, meski tanpa uraian luar-layar: menampilkannya sebagai apa yang penonton pikirkan, katakan dan lakukan, tidak selalu-
Menambah dimensi. Saya telah mengatur perpaduan ungkapan antara objektivitas dan subjektivitas ini tanpa melalui uraian luar-layar di filem My Night at Maud dan Claire's Knee, di mana peran uraian menentukan bagi sang perempuan pengarang. Sang pengarang ingin menguji tokoh wanita dalam novel yang tengah ditulisnya dengan mengomentari tindakan tokoh pria. Juga di filem Love in the Afternoon. Saya telah sepenuhnya meniadakan uraian dalam filem-filem lain saya.

Dengan kata lain, telah terinteriorisasikan. Kemudian kita membuat Suzanne's Career. Bagaimana asal mulanya? Apa itu juga satu dari fiksi Anda? Salah satu tokohnya mengingatkan saya pada Gegauff.
Ya, waktu itu saya baru bertemu novelis Paul Gegauff. Ia juga skenariowan yang kadang bekerja dengan Chabrol. Saya terkesan oleh kepribadiannya. Banyak sutradara seperti Chabrol pun demikian, karena kita melihat adanya “unsur dalam” itu di filem-filem Godard, semisal A bout du soufle dan sebagainya. Cerita filem Suzanne's Career memang begitu “Gegauffian”. Begitulah pokoknya cara Gegauff memikat wanita-wanita yang ditemuinya.

Claire's Knee

Anda pakai itu sebagai tema dasar Anda. Bagi saya filem itu amat menyentuh, karena di akhir cerita, ia memenangkan tokoh wanita.
Ya, pada akhirnya tokoh wanita itulah yang menang.

Bisa Anda jelaskan arti “moral” pada rangkaian filem “Kisah-Kisah Moral” Anda? Selalu ada kemenduaan tertentu di sana. Tentu saja ini terpisah dari kaum moralistes abad ke-18. Ia harus dipahami dalam konteksnya.
Benar. Kenyataannya, “Kisah-Kisah Moral” merupakan judul untuk rangkaian fiksi pendek saya yang ditulis sebelum filem. “Moral” di sini berarti perilaku tokohnya terarah pada satu kode moral tertentu, yang mungkin sungguh miliknya sendiri. Misalnya dalam La collectionneuse, ia kode moral kegenitan.

Melalui itu, si tokoh pria bisa saja menimbang dirinya yang sungguh jelata dengan kode moral yang lebih borjuis.
Persis. Meski bagi saya, keterkungkungan kaum anti-konformis atas kode moral tokoh itu telah jadi klise zaman. Tapi bisa juga, “moral” di situ lebih terujuk pada.... suatu “dunia dalam” atau “dunia interior”.... Dengan kata lain, tak berdasar sendiri pada tindakan manusia. Akan saya jelaskan ini agak lain. Awalnya saya rasa filem-filem saya menyapa dunia sinema dengan muatan tertentu yang tak lain diungkapkan lewat monolog sang tokoh, dengan uraian voice-over, atau suatu diskusi. Dalam banyak filem, tokoh manusia tak pernah mendiskusikan ide-ide, baik ide moral maupun ide politis. Ternyata, bila diskusi demikian telah ditampilkan, seluruhnya selalu terdengar sumbang. Tapi saya merasa telah mengolahnya, karena yang paling menyenangkan saya dari seluruh filem-filem saya ialah adanya pengolahan untuk menghadirkan tokoh-tokoh manusia yang dengan penuh wajar mendiskusikan moralitas, bagaimanapun adanya moralitas itu, entah kode moral kegenitan dalam La collectionneuse, masalah religius dalam My Night at Maud, atau soal erotisisme dalam Claire's Knee. Semua tokoh di situ diselubungi oleh arti “moral” pandangan umum. Saya bahkan mengolah suatu diskusi masalah politik, yang mungkin dibuat-buat— dengan sama wajar dalam filem The Three, The Major and The Mediatheque. Ada saat saya lebih mudah membicarakan politik karena cerita filemnya berlatar jauh di masa lalu, yakni dalam The Lady and the Duke.

La collectionneuse

Sumber wawancara Barbert Schoeder dan Eric Rohmer, “Moral Tales, Filmic Issues”, dalam kumpulan DVD filem Eric Rohmer, Six Moral Tales. Rekaman video digital wawancara ini terjadi pada April 2006, khusus untuk Criterion Collection. Transkripsi, penerjemahan dan penyuntingan oleh Ugeng T. Moetidjo.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 03 March 2010 20:08
 
More articles :

» Sinema Digital dan DVD

(available only in Bahasa Indonesia)Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri...

» Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 January 2010)

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film.Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

» Teater yang Difilemkan

(Available only in Bahasa Indonesia)Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert...

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 519
Content : 146
Content View Hits : 157454

More.Articles_!

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Thursday, 12 June 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

Toshio Matsumoto (1932-)
Wednesday, 12 August 2009

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Wednesday, 03 March 2010

(available only in Bahasa Indonesia)   Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli,...

Lightly Reflecting the World’s History of Visual Art through 70 Million Video
Wednesday, 10 March 2010

There’s so much one can do upon reflecting history. In the Western world, interpretation of cultural history continues to roll until today. It’s the essence of cultural history: to be reinterpreted continuously by consecutive generations. The...

Teater yang Difilemkan
Wednesday, 09 September 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder....

Perbincangan dengan Budi Darma
Tuesday, 14 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah...

Aminuddin TH Siregar: We Excel Other Countries in Southeast Asia
Monday, 03 August 2009

Why do you pick the theme ‘Comedy’ for the fourth OK. Video?We believe the theme comedy correlates to the socio-political state our country is now in. It’s an attempt to look for collective ways of catharsis, not to burden ourselves with...

The Last But Worst Festival
Thursday, 12 June 2008

Faculty of film and television of the Jakarta Arts Institute (JAI) is re-hosting the 10th ‘Directional Film Festival’. What’s make it different?  Aside from emphasizing social matters theme, the title of each category taste really sloppy.The...

Ariani Darmawan: Independent Bioscope as Struggle
Tuesday, 12 August 2008

The independent bioscope emerges as a form of struggle from majority of bioscopes. But what fight it is exactly? Probably none, because speaking about struggle in films which calls independent in Indonesia might be complicated and end up to nowhere....

Elida Tamalagi
Tuesday, 12 August 2008

Negotiate The Discourse of Audio Visual at The Alternative Bioscope   Public demand on alternative bioscopes are numerous. Unfortunately, this huge exigency is not supported by the aspirant management of the movie place. The activity of screening...

Nicolás Echevarría: Myth as a Form of Creativity
Wednesday, 27 May 2009

Nicolás Echevarría is a director, producer and cinematographer who has worked in both film and television, making documentaries and fiction films. One of Mexico’s prominent filmmakers. He began to make films following the massacre at Tlatelolco,...

Tepian Sungai Ciujung: Ethical Strategy in Narrative and Interview Method (Part two of three)
Tuesday, 16 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the second part of the articles. The mind is yet to be free if the medium is not liberating. It’s probably in line with...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah...

Filem! Apa itu? Komunitas Filem.
Thursday, 01 April 2010

Chris Marker: In Memory of New Technology
Friday, 12 June 2009

1. An Awkward MemoryI remember discussing Chris Marker’s most recent feature film, Level Five (1996), with a friend of mine when it first came out. She was generally impressed with the film, but irritated by what she described as “an old man’s...

La Hora de Los Hornos, Godard dan Solanas dalam Perbincangan
Thursday, 12 August 2010

Read english article here (Beberapa waktu lalu, Jurnal Footage  menemukan sebuah perbincangan antara Jean Luc Godard dengan Fernando Solanas—sutradara Argentina—dalam majalah online Indianauteur (www.indianauteur.com) yang dimuat pada 18 Juni...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Monday, 26 January 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Prelinger Archives: Daily Life Archives
Thursday, 03 December 2009

"The film your about to see, represence a significant breakthrough of the advancing science of the motion picture. For years, the industrial film has been pledge by the always-difficult sometime impossible-to-explain cost of the original creative...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Friday, 12 June 2009

(temporarily, only available in Bahasa Indonesia) Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Monday, 06 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Tabu: A Representation of Indigenous Polynesian
Thursday, 31 December 2009

Matahi, a native man of an island in South Pacific called Bora-bora, falls in love with a girl named Reri. One day, Hitu, a tribe leader sent by leaders of each island of the archipelago, comes to take Reri as a replacement for their late sacred...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Wednesday, 19 May 2010

Read original article   Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Thursday, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Sinema Digital dan DVD
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri...

Prima Rusdi
Thursday, 12 June 2008

We May Not Accomplish Anything After a Decade of Political Reform   To commemorate the ten years of political reform, Proyek Payung held a screening event of the ten short films from ten young directors at Kineforum Jakarta, May 12 to 20th 2008....

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Wednesday, 19 August 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Monday, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (available only in Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Thursday, 16 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas....

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net